Jalan panjang kita Semoga menyenangkan



Hampir-hampir aku akan menobatkan diri sebagai mantan penggemar Nadin Amizah beberapa hari yang lalu, karena sudah lama tidak tertarik mendengarkan lagu-lagunya. Nadin Amizah adalah penyanyi yang cukup aku ikuti dari 2019. Mendengarkan lagunya seakan-akan merasa dimengerti. Tiap-tiap dari liriknya seperti merasa ditemani. Kadang kelam, kadang berani, kadang tersendu, sedikit bahagia, penuh dengan harapan. Benar-benar lirik yang puitis mendalam serta melankolis sekali. Banyak perasaaanku yang diam-diam terwakilkan oleh karyanya yang epic itu. 

Hampir semua albumnya sering aku dengar hampir setiap hari, namun beberapa bulan terakhir lagu dia sudah jarang terdengar lagi ditelingaku, bahkan kemarin aku merasa asing dengan lagu-lagunya. Tidak ada lagi perasaan dipeluk dan ditemani itu lagi. Entahlah, cukup sulit dijelaskan. 

Apakah ini yang namanya sudah bukan lagi di fase yang sama? Seperti halnya kita dipertemukan, mungkinkah ini artinya kita juga mulai meninggalkan? Perasaan-perasaan yang tercerabut. Seperti halnya ketika kita mencabut rerumputan hingga ke akarnya, perlahan tapi pasti. Hal-hal yang sudah menancap, mengakar dan tumbuh kini harus tergantikan. Entah kenapa.

Fase yang kumaksud adalah fase-fase sendu penuh harap, seperti halnya pemilik lagu yang bertumbuh. Aku rasa pendengar pun juga seperti itu, ikut tumbuh. Fase yang aku maksud pun juga bukan karena selera, karena aku yakin aku masih suka dengan semua karya ciptanya, namun perasaan dan nuansa lagunya kini sudah seperti jauh dariku.

Hingga hari ini aku memproses pikiran dan perasaanku atau mungkin keinginanku untuk menobatkan diri sebagai mantan penggemar Nadin Amizah. Aku putar lagi lagunya berjudul Berpayung Tuhan memberikan nuansa yang berbeda ketika aku mendengarnya, sama seperti lagu-lagunya yang sebelumnya. Penuh makna dan mendalam artinya. Tapi kisah yang ingin disampaikan menurutku cukup untuk memeluk kita yang sedang sering dihantui oleh ketidakpastian. Berisi dengan lirik-lirik lagu yang penuh harapan-harapan hidup dan kasih sayang. Tentang hal-hal yang lebih jauh dari hidup itu sendiri.

Pada liriknya :

Jalan panjang kita, Semoga menyenangkan 

Sungguh indah bukan ?

Aku rasa semua manusia indah dan akan menemukan keindahannya pada setiap lirik yang dituliskan dengan hati. Begitu pula semua lagu dari Nadin Amizah.
Keindahan itu tidak lalu luntur setelah aku meninggalkannya, akan tetap disana, diruang kecil dalam hatiku.

Sebagai mantan penggemar bukan berarti aku tidak lagi suka lagunya, aku hanya menamai fase dalam hidupku. Fase yang sudah berbeda. Kini aku tidak lagi harus ditemani lagunya yang sering memeluku disaat-saat kacau hariku. Kini aku tumbuh lebih kuat dari kemarin. Kini aku tidak lagi harus kalut ketika banyak hal di masa laluku terasa mengikat diri ini untuk melangkah. Kini pelan-pelan meski belum sepenuhnya sembuh, aku mulai sadar dengan apa yang terjadi pada diriku. Sedih tak harus diratapi, tapi cukup dirasakan. Marah tidak lagi harus dilampiaskan, tapi dikontrol outputnya. Kalut tak lagi harus mencari pelarian, tapi mencoba tenang. Dan masih banyak sekali hal yang membuatku ikut tumbuh dan belajar sebagai pendengarnya.

Walau bagaimana pun juga, Nadin Amizah banyak menemani perasaan-perasaan kacauku bertahun-tahun kebelakang. Dia tetap berjasa dalam enam tahun kebelakang. Dari dia juga aku mampu banyak menerima segala perasaan yang datang sebagai hal yang harus dikelola dengan baik. Berjuta-juta terima kasih untuk Nadin Amizah.

Komentar

Postingan Populer