Aroma Rasa

Kalau Dee Lestari punya novel berjudul Aroma Karsa, kali ini aku menuliskan judul artikelku "Aroma Rasa". Dua hal yang berkaitan dengan indra yang dimiliki manusia. Aroma dan segala hal tentang penciuman. Konon katanya hidung manusia dapat mengenali Triliunan Aroma. Fakta menarik tentang ini adalah, otak manusia dapat mengenail aroma hanya dalam waktu sekitar 150 milidetik atau sekitar 0,15 detik setelah molekul bau mencapai hidung, lebih cepat daripada kedipan mata manusia. Hal ini pun menjelaskan bahwa indra penciuman manusia bukan hanya sekedar alat untuk mencium bau, tetapi juga berperan penting dalam memori, emosi, rasa makanan, hingga interaksi sosial manusia. Sedangkan, konon katanya, makanan akan terasa lebih enak saat dimakan bersama orang yang istimewa. Bukan hanya karena resepnya, Faktor kenangan, kenyamanan, dan ikatan emosional membuat otak menilai makanan tersebut lebih istimewa. Aroma dan Rasa menjadi dua indra yang erat dengan hati.

Aroma dan Rasa ini pula yang aku kira mampu merangkum perjalanan sebentarku di Makassar. Kota Makasar dan perjalanan mendampingi lomba terjauh yang pernah aku lalui, perjalanan yang penuh cerita dan kenangan di dalamnya. Banyak pengalaman yang pertama aku alami, lomba sebagai guru meski kalah, naik pesawat yang aku kira bakal semenakutkan itu, pergi jauh dari rumah untuk waktu yang cukup lama, dan pertama kali menginjakan kaki ku di Tanah Bugis. 

Tepat sampai di Bandara Hassanuddin Makassar, aku sudah tidak sabar benar-benar merasakan udara Tanah Bugis, mencoba mengamati bandara sekaligus menarik nafas dalam-dalam. Mungkin terdengar lebay, tapi itu yang aku lakukan. Dalam hati aku berkata, "Oh, begini ya rasanya mencium aroma Tanah Bugis", seketika aku mencoba memanggil semua pengetahuan yang kuingat tentang kota ini.

Beberapa tahun lalu yang aku ingat dari Makassar adalah tentang karya sastra epik mitologis suku Bugis, dengan lebih dari 300.000 bait dengan 6000 halaman yaitu, Lagaligo. Fantastis bukan? dan aku  sangat kepo apa isinya sampai sekarang. Samar-samar tentang Makassar aku teringat juga pelajaran sejarah ketika masih sekolah yang menceritakan tentang Kerajaan Gowa-Tallo, dan tentu saja Sultan Hasanuddin. Sangat samar aku teringatnya, sungguh menghilang memoriku tentang kerajaan itu, sepertinya aku butuh buku catatan sejarahku. 

Mencoba terus memanggil ingatan-ingatanku tentang Makassar.
dan benar saja, aku teringat novel "Rindu" Tere Liye. Sependek ingatanku, novel ini berlatarkan di pulau Sulawesi, tepatnya kota Makassar. Tentang perjalanan Haji zaman dahulu menggunakan kapal. Terlintas pula ingatan tentang, seperti apa orang-orang pendahulu di Makassar. Yaps, Pelaut dan Pedagang ulung.

Semua ingatan pengetahuan itu mulai luntur, dengan segala hiruk pikuk kota Makassar. Ramai riuh kotanya. Terlebih mendampingi 26 siswa sungguh sangat asik seru dan sibuk sekali. Berkesempatan untuk mencoba kuliner asli Makassar adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh hati mungilku. Let's go...

Makanan pertama asli Makassar

Pallubasa Serigala
Tunggu dulu, jangan salah paham tentang namanya yaa...
Makanan seperti apa kira-kira Pallubasa Serigala ini, bukan daging serigala ya wkwkwk...
Kebetulan aja, Makanan Pallubasa ini bertempat di Jalan Serigala, yang aku ketahui ketika sampai ditempatnya dan membaca plang jalan, serta melihat di Maps. 


Dokumentasi pribadi Us Dewi

Terlihat menggiur kan bukan?
Berbahan dasar potongan daging sapi lokal, lidah, jantung, dan paru goreng. Kuahnya gurih dan pekat sepertinya dari kaldu daging dan santah serta ada rasa rempah-rempah yang khas. Uniknya ditambahi kelapa parut sangrai yang semakin membuat tekstur kuahnya jadi tidak polos. 
Ketika kami duduk, hanya ada satu pertanyaan yang diberikan oleh Kakak-kakak pelayannya. Pakai telur tidak? dan jika kami bilang iya, beberapa menit akan dicemplungi telur ayam kampung ke mangkok kita. Sebagai orang jawa asli, jujur kaget melihat cara pelayanannya yang langsung mak plung begitu saja. Tapi begitu merasakan rasanya, wahhhh... Enak saudara-saudara...

Kalau kata reviewer Makanan di Tiktok, ini Yummy banget, santan, kaldu, dan kelapa parut sangrainya berpadu dan nagih banget..

Kalau kataku : Makanan ini mungkin akan menjadi makanan yang susah untuk dihindari para penderita kolestrol dan orang-orang yang diet demi menjaga berat badannya. Semua melupakan anjuran dokter untuk menghindari makanan bersantan. Lalu keesokan harinya tidak berhenti-henti untuk merekomendasikan makanan ini kesemua orang yang dilewatinya. Agar semua orang tau, ada kenikmatan tersendiri setelah makan Pallubasa. Kebahagian kecil di perut itu mengalir pelan keraut wajah yang tersenyum bahagia. Enak ...

Aroma kota yang ramai di jam-jam tertentu, mendung menghiasi...
lalu ini makanan selanjutnya ...
Makanan kedua 

Es Pisang Ijo

Tidak seperti Food Blogger memang, makanan kali ini saya tidak sempat foto, lebih tepatnya Us Yaya tidak memotretnya. Dinikmati sembari menunggu anak-anak lomba di tangga gedung dakwah Universitas Muhammadiyah Makassar. Ini makanan manis, tentu saja aku tidak habis. Hehe
Untung ada Us Yaya, jadi kita makan Es Pisang Ijo satu porsi berdua. Aku kira rasanya akan pisang banget, ternyata tidak. Sebetulnya yang kurasakan manis seperti jenang didepan Rumah Sakit Brayat yang sering aku beli dulu ketika menjaga Bapak Opname. hehe

Es pisang ijo itu pisang yang dibalut adonan tepung hijau, penyajiannya menggunakan bubur sumsun, sirup khas, dan es batu. Rasa pisangnya seperti pisang pada umumnya, tapi dia lembut sekali, tepung hijaunya dan sirup khasnya aku bingung mendeskripsikannya seperti apa..

Kata temanku asli Makassar, sirup ini hanya ada di Makassar. Tentu saja pisang ijo yang dijual di Solo bukan seperti pisang ijo di Makassar. Kata dia jauh berbeda. Bagaimana dengan aku yang baru pertama merasakan es pisang ijo di Makassar langsung, tentu saja aku tidak tau. Mungkin kalau di Solo, aku bakal mencoba es pisang ijo di Solo. Supaya tau bedanya apa.

Ketika makan es pisang ijo, aku berpikir keras untuk mengingat rasa tepung hijaunya.. mirip jenang yang pernah aku rasakan di Solo, tapi jenang yang mana? yang apa namanya? jenang di depan RS Brayat kan beragam.
Atau mungkin aku memiripkan karena sama-sama menggunakan bubur sumsum? Entahlah?
Lagi-lagi ingatan otaku dan perbendaharaan rasaku sangat minim. Aku tidak tau ini mirip apa, yang aku tau ini enak sekali, cocok untuk kamu yang suka manis ...

pemberhentian selanjutnya...

Makanan ketiga

Coto Daeng Sirua Makassar
Asuhan Haji Singara
Sejak tahun 1987 Khas Kuah Putih Makassar

Setidaknya itu yang tertampang di plakat depat rumah makan ini.
Datang sudah ramai dan antri sesak, tercium aroma kaldu yang membuat perut ini semakin semakin semakin terasa lapar.
Tapi tunggu ...
Coto? suku katanya mirip Soto. Apakah ini sotonya Makassar? Aku mencoba mengaitkannya dengan yang ada di Jawa, dengan berbagai macam soto daerah masing-masing. Soto Seger Boyolali, Soto Sokaraja, Soto Lamongan, dst.
Kalau iya, hampir setiap pekan aku selalu makan Soto, ini akan menambah pembendaharaan rasaku tentang soto.

Dokumentasi Pribadi Us Dewi

Taraaaaa....
Terhidang di depan meja Us Dewi, tentunya penulis tidak banyak memotret karena langsung mencicipi saja cotonya....

Suapan pertamaku, kucium aromanya seperti makanan yang begitu lezat harum dan udara sekitar panas seperti warung soto pada umumnya, mungkin ini kemiripan keduanya.

"Kuahnya putih, santan kah ini?" detik pertama dalam hatiku berkata seperti itu
lalu detik kedua, "Rasanya creamy, apakah ini hanya santan saja, apa ditambah susu?"
detik ketiga mataku mulai berbinar "Oh tidak, apakah ini makanan surga? enak sekali..."

Aroma Coto yang semakin menyeruak ketika suapan pertama, membuatku melamun sebentar dan membayangkan rasa apa saja yang ada dimulutku. Gurih sekali makanan ini. Aku teringat Bapak, Ibu, Mas dan Adik. Mereka sebaiknya mencobanya, sehingga menu sarapan di hari minggu pasti akan berubah menjadi Coto tidak lagi Soto.

Lalu semua orang di meja ini serempak mengatakan makanan ini sungguh enak ...

Tabina berkata, Coto ini mengalahkan ranking makanan favorit sebelumnya.. Coto Makassar ini jadi nomor satu. Aku membenarkan dalam hati, meski aku bukan orang yang suka jajan, dan mengeksplor makanan. Tapi aku rasa, rasa Coto ini memanglah enak sekali.. 

"Barangkali ini makanan surga .." kataku sekali lagi dalam hati.

Bukan seperti Soto. Meski ketika aku melihat ketupat, aku teringat Soto Sokaraja yang pernah aku makan di daerah Mojosongo, sebelah selatan Taman Jaya Wijaya. Terakhir aku lewat warungnya sudah tutup. Aku jadi bingung, kalau mau makan Soto Sokaraja di Solo aku harus kemana ya?

Ini makanan berdaging, berkuah santan kedua yang aku nikmati di Makassar. Tapi rasanya sungguh nikmat. Lebih nikmat dari Pallubasa Serigala. Lebih nikmat jauh dari Soto. Maaf Soto tapi Coto lebih yahuuut...

Pulang dari Makassar dihari yang sama ketika menikmati Coto Makassar adalah hari yang begitu berat. Makassar tidak hanya meninggalkan kenangan tentang perlombaan. Makassar bagiku meninggalkan aroma Tanah Bugis yang sulit aku ceritakan kepada manusia lain. Tentu saja dengan segala kenikmatan makanannya, Makassar bagiku meninggalkan rasa yang tidak pernah bisa kudapatkan ketika di Jawa. 

Perjalanan ke bandara rasanya sungguh aneh, bahkan aku sudah rindu sebelum jarak itu mulai memisahkanku. Sebuah perpisahan yang berat. Sebuah perasaan yang membingungkan. Perasaan ini mirip seperti perasaan beberapa tahun yang lalu, tepat ketika aku harus pindah rumah dari Nusukan ke Ngijo. Perasaan yang ternyata baru kuketahui setelah aku benar-benar mencoba mendeskripsikan apa yang kurasakan beberapa pekan setelah pindah rumah, lalu aku sematkan kata "Rindu" untuk menamai perasaan ini. Perasaan rindu pertamaku tahun itu adalah rindu dengan Rumah Nusukan. Rumahku selama 14 tahun. 

Apakah perjalanan di Makassar rasanya seperti ke rumah? atau Makassar itu Rumah? atau lebih tepatnya Makassar mirip Rumah, setidaknya ikatan emosional yang diberikannya.
Ada potongan perasaan bahagia di dalamnya.
Secuil capek yang terobati dengan menikmati makanan bersama.
Selebihnya memori tentang kebersamaan memenuhi.
Hatiku penuh dibuatnya.

Ini perasaan Rindu keduaku pada suatu tempat. Setidaknya seingatku seperti itu, aku jarang sekali merasa rindu pada suatu tempat. Kalau rindu pada seseorang, sering. Harus benar-benar yang sampai ke hati baru bisa kurasakan rindu itu. Meski terasa begitu janggal, namun aku menikmati perpisahan yang sungguh aku rindukan untuk kembali ini. Perpisahan dengan Aroma dan Rasa. Aroma Tanah Bugis, dan Perasaan yang diberikan Kota Makassar.

Raga yang berkelana ...
Perjalanan ke Makassar 11-15 Februari 2026
Ditulis : Karanganyar, 7 Juni 2026

Komentar

  1. “,..bahkan aku sudah rindu sebelum jarak itu mulai memisahkanku.” hmm, kata-kata ini sederhana namun maknanya sulit dijelaskan.

    BalasHapus
  2. kutunggu next artikelnya, serasa ikut berkelana aku xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga next tulisan tidak mengecewakan pembaca... hehehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer