Kenapa 25?
Hari ini aku 25 tahun, seperempat abad, memasuki Quarter Life Crisis tepat ditengah-tengah mungkin yaa. Bukan umur yang dewasa awal lagi dimana mungkin ketidakstabilan emosi dan semangat yang sering menggebu-gebu disertai tiba-tiba hilang ditengah jalan bisa dimaklumi. Ekspektasi sosial mengenai dewasa rasanya cukup membebani untuk kalangan mendang-mending sepertiku. Padahal baru tahun kemarin aku belajar untuk "menerima diri sendiri", dan 12 bulan setelahnya menjadi pembuktian dan perjalanan kalau aku masih banyak PR. Padahal baru kemarin aku mencoba untuk kembali merencanakan hidup yang seringnya berjalan tanpa rencana. Saat ini sudah bertemu dengan 25 saja.
Banyak hal yang terjadi selama setahun ini, setahun menjelang 25 tahun. Dari proses penerimaan diri yang rasa-rasanya semakin aku mencoba menerima diriku semakin aku mengabaikan. Belum lagi perihal pertanyaan dan pernyataan dari orang tua yang menyuruh segera menikah dari umur 22 tahun sudah seperti santapan setiap hari, 3 tahun sudah diberi pertanyaan "Kapan nikah?", dan lagi-lagi tiap tahun masih sama saja pernyataannya "Hanya Allah yang tahu". Belum lagi semakin kesini, semakin banyak teman yang sudah menemukan pasangannya. Semakin besar pula tekanan sosialnya. Perihal bekerja dan keluarga tetap jadi hal paling utama di hidup ini, semua tentang bertahan. Lalu kembali belajar untuk melepaskan teman, bukan karena sudah tidak berteman. Tapi rasa-rasanya interaksi yang berlebihan dan banyak hal yang mulai tidak relevan jadi alasan kenapa harus melepaskan. Meski sekaligus dihantui perasaan kesepian.
Dimasa lalu, aku merasa umur 25 mungkin sudah mulai tau apa yang sebenarnya aku inginkan. Ternyata itu muluk-muluk. Seperti melewati kabut setelah badai, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada didepan. Mungkin ini juga bukan tentang siapa paling cepat sampai barangkali memang perjalanan yang tanpa rencana dan jika aku berhenti sejenak bukan berarti aku tidak akan sampai tujuan. Sebab, banyak hal yang tidak pasti yang kutemui, yang perlu waktu untuk memprosesnya, yang perlu keteguhan hati untuk menerimanya, yang perlu jeda untuk kembali melanjutkannya. Kembali bangkit setelah dihujani dengan banyak peristiwa.
Aku rasa banyak sekali kesalahan yang kualami, kecerobohan yang tanpa sadar aku lakukan, serta beribu keputusan bodoh yang diambil. Namun satu hal yang selalu membuatku kembali baik-baik saja setelah semua kesalahan, kecerobohan, dan kebodohan itu terjadi. Bahwa aku tetap layak menjadi manusia meskipun aku sudah salah, ceroboh dan bodoh tinggal bagaimana hari esok aku jalani tetap dalam kubangan yang sama atau pergi angkat kaki. Pelan-pelan satu-satu. Hidup lebih sempurna dengan ketidaksempurnaanya.
Sukses diumur 25 versiku adalah tetap bertahan. Seriuh apa isi pikiran, sehancur apa perasaan, serumit apa kejadian, bertahan tetap menjadi pilihan. Keyakinan bahwa Allah selalu bersamaku adalah kunci.

Komentar
Posting Komentar