Sedikit cerita tentang S2

 Setelah merasakan pahit dan menyiksanya skripsi, tiba lah waktu dimana pertanyaan itu muncul?
"what the next?"
Pengen rasanya menjawab "nikah aja lah" tapi tau diri, belum siap mental dan belum ketemu calonnya. Ya mau gimana lagi, pilihannya hanyalah melanjutkan hidup dengan keidealisan ini. Atau sering orang katakan "muluk-muluk". Tahun 2023, menjadi tahun cukup pelik. Menghadapi trauma masa kecil yang sempat tertrigger. Berjuang membiayai kebutuhan harian sendiri dengan terus fokus skripsian. Jika aku diumpamakan makanan mungkin aku nasi goreng mawut itu. wkwk

Ya, ke idealisme an itu bernama: "Memang iya aku pengen jadi guru?", "Memang iya guru adalah jalan hidupku?", "Aku masih ingin mencoba S2?", "Aku tidak ingin jadi PNS, kalau bukan menjadi dosen". "Aku pengen jadi ibu yang baik, tapi masih terjebak dengan ekspektasi karir duniawi". Bagaimana?Sampai disini mungkin orang lain melihat jelas ya, kenapa aku lanjut untuk kuliah lagi S2. Yeps, pengen jadi dosen pada awalnya.

Alih-alih mengiyakan, aku memutuskan untuk bertempur lagi kuliah meski baru bekerja 1 tahun meski belum wisuda adalah karena bapak menyuruhku mengambil kesempatan kuliah beasiswa kalau sudah dapat ijazah. Sempat tidak niat dan sudah hampir tidak mendaftar karena perdebatan panjang dengan bapak. Tapi, Allah berkata lain. Tepat dihari-hari akhir pendafataran, Bapak masuk rumah sakit. Siapa yang tega hatinya jika ditanya bapak yang berbaring dikasur rumah sakit bertanya-tanya tentang pendaftaran kuliah anaknya yang kedua ini? Jelas bukan aku. Dengan tanpa berpikir panjang aku melanjutkan pendaftaran saat itu juga di rumah sakit. 

Setelah dengan setengah hati mengikuti alur pendaftaran dan seleksi beasiswa, aku dinyatakan lolos. Sampai detik ini, aku merasa perjalanan S2 ini adalah hal yang tanpa tujuan jelas diawal. Seperti hilang arah tujuan kecuali lulus tepat waktu sesuai dengan pakta integritas beasiswa ini. Bahkan hingga 1 tahun perkuliahan terlewati dan sedang revisian proposal thesis saat ini tujuannya masih sama dan hanya satu itu saja. 

Namun bukan berarti tidak ada hikmah di perjalanan S2 ini, 1 tahun berkuliah membuatku belajar menjadi dewasa lebih cepat melewati drama tugas dan bekerja ini. Tapi tetap saja, masih banyak pertanyaan teoritis dan praktis mengenai pendidikan yang masih saja berputar-putar dikepalaku. Tentang banyak hal yang tidak kutemui di perkuliahan. Tentang bagaimana sebenar-benarnya pendidikan itu dapat membebaskan dan bentuk pendidikan seperti apa yang sesuai dengan kehidupan manusia sekarang ini? dan masih banyak lagi. 

Lalu, kembali menjawab tentang pertanyaan diawal tadi. Ternyata pilihan terbaik yang bisa kujalani adalah tetap menjadi guru seperti aku melihat guru yang ideal itu seperti apa. Semua keinginan idealismeanku runtuh, aku hanya ingin menjadi guru dan terus belajar menjadi guru sampai aku merasa cukup baik menjadi guru. Entah sampai kapan.

Seperti sekarang ini, aku menuliskan tulisan ini sebagai pengingat bahwa aku tumbuh. Bahwa meskipun dan bagaimanapun hidup membawamu kedalam kesedihan dan mungkin penderitaan, Allah selalu ada disetiap langkah kita. Aku menulis ini di rumah sakit, kali ini bukan bapak yang dirawat. Bukan juga aku, tetapi ibuku. 

Komentar

Postingan Populer