angel listener
Ternyata menjadi teman orang orang ekstrovert adalah harus sanggup menjadi pendengar yang baik untuk mereka. Terkadang dilubuk hatiku berbisik, kapan aku gantian ngomong tapi disisi lain capek juga kalau harus cerita yang akhirnya dia pun tidak mau mendengarkan.
Sejauh ini, sejauh sampai umur ini. Bahkan aku belum menemukan orang yang benar-benar dengan sepenuh hati mau mendengarkanku. Aku selalu tau dibalik matanya, mereka seperti terpaksa mendengarkan keluh kesahku. Aku seperti dibisiki bahwa mereka sudah bosan mendengarkan ceritaku. Bahkan yang lebih menyebalkan, ceritaku sering berakhir dengan perdebatan sepele yang menurutku tidak masuk akal yang membuatku bukan merasa lega karena sudah bercerita tapi merasa bersalah dan menyesal karena bercerita, mungkin ini yang orang-orang katakan sebagai trust issue.
Menjadi orang yang tidak begitu introvert tapi juga bukan ekstrovert parah membuatku kadang merasa ingin punya teman yang selalu memberikan energi positif kepadaku. Karena selain diam dirumah berhari-hari, kadang aku lebih suka menghabiskan waktu bersama orang yang menurutku spesial dan berarti untuk kembali mengisi tangki energi.
Tapi, bertemu teman semakin kesini malah menjadi ketakutan. Aku takut aku kembali sembunyi dibalik diam untuk mendengarkan, hingga energiku kembali habis. Aku takut bertemu teman yang akhirnya aku menyesali pertemuan itu. Aku tau perteman di usia sekarang semakin tidak relevan karena topik pembicaraan dan kesibukan yang tidak menentu. Penuh takut dan kembali menyerah.
Disisi lain, teman cerita yang kuanggap hanya 0,1% dari teman yang kukenal. Alih-alih aku mampu bercerita, yups ujung ujungnya aku jadi angel listener keluh kesah kehidupan. Menarik dan menyenankan jika dia mampu memberikan energi positif disetiap ceritanya. Namun kebanyakan dari mereka sering hanya berujung menyalahkan persoalan hidup.
Bahkan diumur sekarang, aku sudah berhenti bertemu teman baru tidak pernah ngobrol dengan teman kecuali teman kerja. frekuensi bertemu teman cerita sudah jarang.
Bukan karena menutup diri, hanya capek berekspektasi
Bukan anti sosial, hanya capek banyak patah hati
alternatifnya, raga kembali tidak bercerita mungkin untuk waktu yang cukup lamaa. Terlebih, harapan untuk bertemu teman hidup agar punya teman cerita selamanya untuk saat ini cukup diambang batas keputus asaan. Bukan karena aku menolak dan menutup diri untuk bertemu. Hanya sedang capek saja dan sulit meyakinkan hati yang sudah tertutup lama bahkan ketika hati itu belum pernah dibuka. Bagaimana???

Komentar
Posting Komentar