sisa-sisa hati yang kupunguti sendiri dalam diam
Selama 24 tahun hidup di dunia ini banyak sekali hal yang bahkan aku tidak kenal. Termasuk mengenal diriku sendiri. Aku kira keputusan paling brutalku ketika aku tidak menyukai suatu hal adalah memutuskan untuk pergi, membenci, dan melanjutkan hidup menjauhi hal tersebut namun ternyata itu salah. Suka tidak suka ternyata adalah hal yang wajar terjadi tanpa perlu dijauhi. Seperti kamu yang tidak suka duren, sedangkan aku bisa bisa saja memakannya tanpa merasa tidak suka. Atau seperti kamu yang memilih 02 dua di pilpres tahun kemarin sedangkan aku masih saja berkiblat kepada pilihan bapak. Suka tidak suka ternyata pada akhirnya kita harus berdampingan juga. Mau tidak mau hidup membawa kita untuk menerima keberagaman pun keberagaman selera. Bukankah bangsa ini dibangun dari keberagaman ? "Bhineka Tunggal Ika". Keberagaman yang dimaksud tentunya mengenai ras, suku dan bahasa yang jelas menimbulkan banyak perbedaan dari satu sama lain masyarakatnya.
Banyak memori memori baik yang tercipta dari hal hal yang aku sukai, atau dari hal hal yang selalu aku coba sukai. Serta tidak menutup kemungkinan juga bahwa ketidaksukaanku terhadap suatu hal terkadang selalu membuatku emosi dan bergejolak. Aku pun selalu mencoba untuk berdamai dengan itu. Namun bagaimana dengan perubahannya? Perubahan dari yang awalnya tidak suka menjadi suka. Dari hal yang awalnya sama lalu memilih untuk berbeda. Cukup rumit dimengerti untuk satu sama lain. Tapi apakah memang akhirnya harus tidak sama sama lagi? (Baca: sambil mendengarkan lagu Mangu-Fortwenty)
Setiap hari, mencoba memetakan apa yang sebenarnya aku sukai, dan tidak. Mencoba memahami apa yang direaksikan oleh tubuh dan hati tentang suatu kejadian setiap harinya memanglah hal yang tidak semua orang mau menjalani. Alih-alih memberikan waktu kepada diri ini untuk memproses semuanya kadang jari-jari ini tidak berhenti untuk scroll medsos berjam jam. Namun, dalam perjalanan kehidupanku ini apalah dayaku. Aku pun tidak bisa mengendalikan kehidupan agar bisa seperti yang aku mau, semua hal tentang aku sukai, semua hal tentang yang aku harapkan.
Seperti halnya refleksiku ditahun ini, atau mungkin beberapa tahun kebelakang atau lebih tepatnya sidang labfis tahun 2023. Satu kejadian itu pelan-pelan merubah caraku berpikir tentang diriku dan hubunganku dengan bapak. Hal yang paling aku benci didunia ini mungkin salah satunya adalah laki-laki yang merendahkan perempuan. Aroganisme. Marah-marah tidak jelas. Verbal and Physical Abusse. Semua itu jelas pernah aku lihat didepan mata dan pelakunya adalah orang yang in other side adalah inspirasiku untuk terus membaca. Lalu hubungan ini terbangun dengan fondasi hate and love relationship in the same way. Seperti halnya tumpukan sampah di TPA, tumpukan emosi yang dipendam ini sering juga meletup-letup di dalam diriku. Kata-kata merendahkan dan terkadang meledak-ledak sering ku alami dan selalu menimbulkan kekecewaan atas diri sendiri. Kadang ketika kata tak mampu lagi aku ucapkan, Tangisan adalah senjata utamaku dalam membela diri dari emosi yang terjadi. Lalu semua menjadi sendu berminggu-minggu dan apesnya sampai umurku ke 24 aku masih perang batin perihal ini. Menerima diri sendiri itu susah, terlebih ketika hal yang kita benci ternyata ada di dalam diri kita sendiri secara genetik.
Lalu, aku temui sebuah fakta baru mengenai sahabatku. Tentang bagaimana dia akhirnya memutuskan untuk melepaskan diri dari agamanya. Sebuah keputusan yang tidak bisa aku terima secara akal dan hati pada waktu itu. Sedih bukan main, berhari-hari aku mencoba memproses fakta ini. Sampai pada akhirnya aku mencoba kembali berteman dengannya lagi. Mencoba menyingkirkan kekecewaan dalam hati. Mencoba menguatkan hati untuk menerima kenyataan ini. Pertemanan dan persahabatan yang dibangun bertahun-tahun rasanya ingin aku sudahi, namun begitukah harusnya? Memulai kembali pertemanan dengan orang yang sama tetapi pribadi yang berbeda membuatku sangat-sangat mensetting bounderis berlapis lapis kepadanya. Mencoba kembali dengan mengesampingkan kecewa adalah hal yang aku coba lakukan.
Pada akhirnya aku berbicara pada diriku sendiri dalam diamnya malam
kalau memang pada akhirnya harus tidak sama-sama lagi, biarkan saja waktu yang menjawab semuanya.
kalau memang hati berat untuk menjalani, namun lebih berat lagi mengikhlaskan
coba biarkan hari-hari menjawabnya
semua hal tidak kau sukai kadang hanya butuh waktu untuk kau pahami alasannya
ketika teka teki alasan itu mulai bermunculan, hatimu akan tau kapan waktunya bertahan dan pergi
pun begitu dengan hal yang diam diam kau sukai
jaga ia dan biarkan waktu berhenti agar menjadi memori baik di dalam hatimu
Mungkin sangat terkesan galau sekali, namun aku hanya ingin menulisnya. Mencoba menuangkan apa yang sebenar-benarnya sedang kurasakan.

Komentar
Posting Komentar