Kelas Fisika Hari Ini : Praktik dan Teori harus Berjalan dengan Seimbang


Setiap kali saya melihat wajah-wajah kebingungan di depan kelas, alis berkerut, kepala tertunduk, dan bahkan omongan kecil seperti “pusing, Bu ..”. Didalam hati saya ada sedikit keresahan yang secara diam-diam tumbuh begitu saja. Saya adalah seorang guru fisika SMA Swasta merasakan seperti ada jurang yang lebar antara apa yang sedang saya coba sampaikan dan apa yang bisa mereka pahami. Saya bahkan sangat mengerti bahwa fisika adalah ilmu yang tidak mudah. Fisika penuh dengan simbol, hukum, teori, postulat dan logika yang berisi persamaan persamaan matematis yang seringkali kaku. Tapi perasaan resah saya berubah menjadi khawatir dan takut. Jangan-jangan yang membuat mereka pusing bukan sekedar karena simbol, teori dan logika kaku tetapi lebih dari itu jangan jangan mereka tidak melihat alasan untuk memahaminya. Tidak mampu melihat keterkaitannya dengan kehidupan mereka. Hal itu yang membuat saya bertanya, apa arti keberhasilan saya sebagai guru jika yang saya wariskan hanyalah kepusingan, kemumetan dan ketakutan pada fisika, bukan ketertarikan? Apa gunanya menyelesaikan satu bab, kalau yang tertinggal hanyalah rasa gagal dan rasa asing terhadap ilmu yang sejatinya menjelaskan tentang alam semesta yang mereka tinggali?

Ironinya saat saya mengajar konsep-konsep fisika seperti energi terbarukan, fluida, kalor, perubahan iklim, atau efek rumah kaca reaksi siswa seringkali menunjukan kebingungan dan menganggap materi ini jauh dari kehidupan mereka sehari-hari. Mereka merasa tidak familiar dengan fisika. Di kelas ketika saya berbicara tentang panel surya dan turbin angin ataupun turbin air, sebagian besar dari mereka bahkan belum pernah melihat bentuk aslinya, apalagi merasakan secara langsung manfaatnya. Ketika saya mencoba menghadirkan konsep-konsep fisika pada energi terbarukan didepan mereka dengan menggunakan pembelajaran projek, masih banyaknya siswa yang salah kaprah dengan konsep energi terbarukan. Konsep perubahan energi yang seharusnya energi angin menjadi listrik malah terbalik dari energi listrik menjadi angin. Alih-alih mereka membuat turbin angin malah membuat kipas angin. 

Terlebih ketika saya menyampaikan tentang realitas pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia yang masih sangat rendah dibanding dengan potensinya yang masih sangat besar. Banyak yang susah memahami fakta ini didalam kehidupan mereka. Beberapa siswa belum mampu memahami makna dari fakta bahwa Indonesia berpotensi besar akan sumber daya alamnya namun masih sangat rendag pemanfaatan energi terbarukannya. Ketidakberhasilan pemahaman ini lantas membuat mereka gagal berpikir untuk mencari solusi apa yang bisa mereka lakukan kedepannya. Hal ini terlihat dari seberapa pasif mereka menyampaikan solusi didepan kelas akibat dari permasalahan ini. Sejauh ini, itu yang saya lihat dan alami.

Berbeda lagi dengan yang terjadi di kelas XI. Ketika saya mengajar materi fluida statis dan fluida dinamis dengan begitu banyaknya konsep yang harus dijelaskan satu persatu. Siswa terkadang sudah overwhelmed ketika harus menghadapi persamaan-persamaan fisika yang didapatkan dan kesusahan untuk mengkaitakan konsep yang didapatkan dengan kehidupan sehari-hari. Fenomena paling sering yang saya contohkan adalah tentang sayap pesawat terbang, Bagaimana pesawat dapat terbang? Terlebih hampir sebagian siswa pun tidak pernah naik pesawat terbang, begitu pula gurunya. Konsep-konsep fisika yang sebenarnya bermanfaat untuk kehidupan terkadang malah dirasa begitu jauh dirasakan. Alhasil, terkadang hanya bayangan imaji semata. Terlebih mengetahui bahwa fluida itu tidak hanya tentang cairan pun siswa masih ragu. Secara konsep fluida adalah zat yang memiliki keunikan untuk mengalir dan menyesuaikan bentuk wadahnya yang berarti tidak hanya cairan, tetapi gas pun juga termasuk fluida loo. Jadi dalam benak siswa mereka diawal kadang masih belum mempunyai pengetahuan tentang fluida itu sendiri sebelum masuk ke penerapan sayap pesawat terbang. Ini baru konsep awal, belum pada penerapan fluida statis dan dinamis. 

Di dalam buku Pedagogy of the Oppressed atau dalam bahasa Indonesia berjudul Pendidikan kaum tertindas karya Paulo Freire mengemukakan bahwa praktik dan teori harus berjalan dengan seimbang. Dengan kata lain, ketika siswa kekurangan baik rasa ingin tahu epistemologi maupun kedekatan dengan objek pengetahuan yang ingin dipelajarinya, akan sulit untuk menciptakan kondisi yang dapat meningkatkan rasa ingin tahu epistemologinya untuk mengembangkan alat intelektual yang dibutuhkan yang dapat membuat siswa mampu menangkap dan memahami objek pengetahuannya. Jika siswa tidak mampu untuk mengubah pengalaman hidup mereka menjadi sebuah pengetahuan dan menggunakan pengetahuan yang telah didapatkannya sebagai proses untuk menyingkap pengetahuan baru, dia tidak akan mampu untuk ikut masuk ke dalam dialog sebagai sebuah proses belajar dan mencari tahu. 

Susah memang ketika dihadapkan pada realitas pendidikan di Indonesia dan realitas kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Menurut saya guru juga harus mempunyai sudut pandang siswa dimana siswa sama sekali belum tau tentang konsep-konsep fisika dan dari situ guru dapat belajar untuk menjelaskan fisika dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Lebih lagi bahwa fisika adalah tentang keseharian, maka dalam proses pembelajarannya teori tidak pernah lepas dari praktek pun sebaliknya. Memang bukan suatu hal yang mudah, memang lebih mudah memberikan rangkuman persamaan-persamaan, namun mungkin disitulah seninya menjadi guru. 

Pun sebagai catatan perjalanan saya sebagai penulis dan guru yang sedang belajar bagaimana menjadi guru tentu masih banyak PR yang belum selesai. Setidaknya saya sadar untuk merefleksikannya di blog pribadi ini. Sangat terbuka untuk diskusi ide.

Semangat menjadi guru 😊

Komentar

Postingan Populer