Raga yang berkelana #1



Yeps, bahkan ketika pertama kali liat postingan ini dan membaca bahwa tidak berbayar dengan banyak, langsung berharap bisa datang ketempat itu lagi. Kedatangan kali ini untuk menilik seberapa berani aku datang pada tempat asing untuk berkomunal dan seberapa berani aku melawan rasa tidak nyaman tentang jogja. Ada yakin yang bertambah ketika aku menghubungi Cici dan dia tertarik untuk datang. Semakin tinggi pula rasa kepercayaan diri ini karena itu berarti bahwa aku tidak datang sendiri. Tapi itu mungkin hanya perasaanku saja, tepat sehari sebelum hari itu datang dia membatalkan reservasinya. Tentu saja kepercayaanku turun menjadi 40%, berpikir ulang untuk datang mulai menimbang banyak hal tentang acara yang diadakan malam hari. Sungguh lucuu, manusia ini bisa kehilangan kepercayaan diri sampai 60% hanya karena sendirian? Bukankah dia dulunya suka sendirian ?

Sampai tibalah hari kemarin, hari dimana aku sudah merencanakan untuk naik KRL jam 16.35 WIB dan keluar rumah jam 11 an. Seperti banyak hal yang kulakukan di Solo, pergi ke Solo tidak untuk satu agenda saja. Ada undangan makan makan bersama Sahala dan teman Selusinnya dan hujan pun datang hingga 16.35 WIB. Tapi justru aku semakin yakin untuk datang, sembari berkata dalam hati "Sepertinya akan seru ketika hujan, sendirian, dan perjalanan ke Jogja (Kota yang aku hindari berbulan-bulan lamanya) kudatangi hari ini" lalu kepercayaan diriku naik menjadi 60%. Jelas bukan situasi yang nyaman namun menantang. 

Tepat 16.35 WIB KRL melaju ke arah Jogja dari Palur tentunya agar tidak jauh dari Rumah ketika aku pulang meskipun itu jauh dari tempat tinggal Sahala untuk keberangkatan kali ini. Sepertinya otakku selalu memutarkan kejadian-kejadian yang familiar ketika aku sendiri. Tanpa adanya kesadaran yang penuh, teringat tentang lagu Nadin Amizah "Kereta ini melaju terlalu cepat" yang padahal aku tahu KRL tidak secepat kereta yang lain untuk perjalanan antara St Palur-St Balapan entah itu benar atau tidak namun itu yang kurasakan. Jelas karena jarak stasiun yang berdekatan bahkan ada 3 stasiun di Kota Solo itu sendiri, sangat dekat dan mustahil kereta akan melaju terlalu cepat. Sesampainya di Jogja lebih tepatnya Stasiun Lempuyangan masih dengan langit yang sama seperti di Solo, hujan pun membersamaiku. Riuh dan kacau, Sholat Magrib dan mencoba order Gojek. Seperti perkataan Sahala sebelum aku berangkat ke Stasiun Palur, "Mbok wes ning omah, udan lo ga" seperti itu pula kondisi para driver Gojek. Menunggu 15 menitan baru mendapatkan driver yang mau menjemputku, dan menunggu 15 menit pula Driver itu sampai didepan mataku. Ternyata arah beliau pulang searah dengan tujuanku kali ini. Allhamdulillah masih ada driver yang mau menjemputku. 

Sesampainya disana dengan basah, dingin dan sendirian berdiri tepat didepan rumah itu. Rasanya ada takut dan pengen pulang saja namun menjadi hangat ketika melihat 2 pembicara 1 pemilik rumah dan tim mereka. Bukan karena siapa mereka, namun tempat ini membawa atmosfir pembicaraan yang menyenangkan, setidaknya untuk merasa bahwa keresahan tentang Indonesia tidak kutanggung sendirian sebagai beban peradaban. Namun bertubi-tubinya masalah yang muncul di Indonesia hadir sebagai keresahan koletif. Mengetahui bahwa aku tidak sendirian dan ini interaksi nyata bukan interaksi maya, membuatku lega. Pembahasan tentang isu wanita dan anak-anak tentu saja tidak mungkin tidak dibicarakan oleh Mbk Kalis. Banyaknya pemangkasan anggaran akibat efisiensi pun tak luput dibicarakan. Semuanya mengenai banyak hal tentang negeri ini. Bahkan ketakutan dia sebagai seorang ibu pun ikut dibicarakan. Pun Mas Ali yang menggaris bawahi untuk tetap memelihara rasa pesimisme sekarang-sekarang ini agar hal-hal kecil akan terasa lebih bahagia dan menjadi salah satu upaya untuk bertahan hidup. Tak mungkin dilupakan pemilik BhumiBhuwana ini sendiri Mbk Bhuki mengingatkan diri kita untuk kembali menggelapkan diri agar dapat melihat terang dalam hati kita masing-masing.

Sebuah perbincangan yang menarik, setidaknya mengeluarkan keresahan cukup membuatku baik-baik saja. Meskipun saat itu aku hanya diam. Apakah itu artinya selama ini aku tidak baik-baik saja? Coba kutanyakan padamu siapa yang baik-baik saja melihat kejadian-kejadian akhir akhir ini? siapa yang tidak stress? siapa yang tidak muak dan ngamuk? siapa yang tidak anxious? ya mungkin ada, untuk beberapa orang yang tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku hanya mencoba mencari dan berkelana tentang banyak hal yang aku ingin ketahui meskipun aku tahu bahwa resiko mengetahui banyak hal lebih akan membuatku tidak berhenti berpikir daripada tidak mengetahui sama sekali. Tapi biarkan Raga ini berkelana...

Kurang lebih jam 20.20 an ? belum juga mendapatkan driver gojek, terlalu hening sendirian ditengah ramai karena acara sudah selesai dan peserta sudah mulai pulang. Aku memutuskan untuk jalan kaki sampai menemukan apa yang bisa membawaku ke Stasiun Lempuyangan toh jaraknya cuma 3,5 km bukan suatu hal yang jauh untuk dijangkau oleh kakiku pikirku malam itu. Namun aku tahu semua berpacu pada waktu yang semakin larut dan hujan yang belum mereda, melihat di gmaps butuh waktu 1 jam untuk sampai ke Stasiun Lempuyangan dengan berjalan kaki? Ya Allah. Oke mari berjalan cepat dan berpikir. Jalan mulai sepi namun tidak sesepi itu untuk Kota Jogja, masih banyak kafe, rumah makan, dan tempat hiburan yang masih banyak pengunjung. Secercah harapan muncul ketika aku melihat becak motor. Aku memutuskan untuk berjalan kurang lebih 20 menit hingga mendapatkan becak motor yang mau membawaku ke Stasiun Lempuyangan meski harus membayar 2 kali lipat dari harga Gojek tapi itu lebih baik daripada aku jalan kaki sendirian 1 jam ditengah hujan gerimis. Mungkin sudah hampir bertahun-tahun lalu aku naik becak, lama sekali sampai aku  tidak ingat kapan terakhir aku naik becak. 

Sampai di rumah 23.10 WIB perjalanan yang melelahkan. Namun perjalanan pulang dari Jogja ini membuatku semakin sadar bahwa kenangan tidak pernah mampu berubah, hanya tentang perasaan saja yang membuatnya terkesan menyakitkan untuk dihadapi dan perihal waktu semua akan baik-baik saja serta perihal diri kita sendiri yang memilih pergi atau menghadapi. Pun tentang mencari untuk menemukan, sampai detik ini aku pun masih bingung tentang apa yang sebenarnya kucari dan apa yang sebenarnya akan aku temukan? Semoga Allah selalu membersamaiku. Aamiin.


 Karanganyar, 19 April 2025 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer