CUE #8

     Cerita untuk Esok kali ini adalah sebuah surat untuk diriku sendiri dimasa depan dan sebuah refleksi diri disaat ini. Banyak hal yang berlalu begitu saja tanpa sempat kita nikmati dan sadari kehadirannya seperti sebuah luka dan trauma yang bertahun-tahun tak pernah dipulihkan merasa bahwa waktu akan menyembuhkan. Padahal itu semua sekarang terasa salah, dan tulisan 4 tahun lalu sudah tidak relevan untukku, "Memilih yang tak selalu membuat pulih". Bukan, pada akhirnya aku benar-benar hanya ingin pulih dan sembuh. Membiarkan sakit dan trauma ini begitu saja hanya seperti bom waktu. Siap kapanpun akan meledak kecil maupun besarnya. 

Dalam sebuah percakapan dengan banyak teman akrabku aku sempat berkali-kali mengucapkan bahwa "Dulu ketika umurku belasan, aku berfikiran bahwa sepertinya hidup tanpa menikah adalah jalan yang akan kutempuh". Bukan, bukan tanpa sebab. Pada saat itu aku hanya berpikir siapa yang sebenarnya akan kujadikan contoh untuk aku menjalani pernikahan? pernikahan seperti jalan panjang yang menyeramkan, dan penuh penderitaan. Semua gelap, banyak hal yang tak ideal dalam hari-hariku yang dalam kaca mataku waktu itu semua warna adalah hitam dan putih. Jika apa yang kulihat adalah hitam, maka aku akan mencari terangnya yaitu putih. Jika sesuatu terasa sulit untuk dilakukan, maka aku akan menghidarinya daripada aku tersiksa olehnya.

Kumpulan kenangan buruk yang aku alami seakan-akan menutupi banyak bahagia dalam perjalannya. Hingga aku menyadari satu hal diumurku yang 20, yaitu 4 tahun lalu. Bahwa kehidupan tidak seburuk itu, sebuah pernikahan tak seburuk itu. Ada banyak hal yang aku sadari perlahan harus kulalui terlebih dahulu sampai pada akhirnya aku sampai dititik itu. Sepertinya seperti itu. Merasa bahwa kenangan-kenangan buruk itu mengendap menjadi trauma trauma yang tersimpan tertutup begitu saja di hatiku. Menyadari bahwa ada beberapa luka yang masih menganga dan beberapa kali berteriak untuk disembuhkan kurang lebih 2 tahun ini membuatku lekas untuk mencari tahu akarnya. 

Dimulai dari sedikit demi sedikit memori yang sering muncul dalam mimpiku ketika aku sedang dibawah tekanan atau stress. Ataupun kenangan buruk yang sampai saat ini visual dan perasaanya masih sangat bisa kurasakan. Mimpi tentang perselingkuhan, sepotong memori aku tidur dikursi karena tempat tidurku kotor. Merasa tersingkirkan dirumah sendiri. Rasa ketakutan yang mendalam ketika ditinggalkan. Selalu merasa penyebab dari sebuah kejadian yang menimpa kakak ataupun adik adalah salahku. Serta perasaan membenci sifat orang tua yang pada akhirnya tanpa kusadari adalah sifatku juga. Dan juga perasaan yang hancur ketika direndahkan oleh orang lain didepan umum yang menurutku itu berlebihan. Kenangan tentang pembullyan zaman SD pun masih terekam jelas.

Sungguh sangat beragam dan kompleks. Bertahun-tahun selalu mencoba menerka, kenapa aku untuk beberapa periode sering sedih sampai berminggu-minggu? Kenapa aku terkadang meledak-ledak? Kenapa aku sempat ingin melakukan kekerasan fisik ke orang lain? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? 

Momen aku sadar bahwa sesungguhnya aku tidak baik-baik saja adalah masa-masa skripsian, dibawah tekanan, semua mimpi buruk itu bermunculan, semua perasaan itu menyatu sampai menyesakkan dada. Namun Raga ini masih harus terus bergelut dengan dunia, tidak ada waktu untuk benar-benar merasakan. Lagi pula ketika tekanan itu berangsur-angsur mereda, semua perasaan itu seperti kembali masuk ruangan gelap dan tersimpan rapi kembali dalam hatiku. Dan dengan kesadaran penuh bahwa banyak hal yang ternyata belum selesai dalam diriku, semakin membuatku yakin bahwa sebelum aku memutuskan menikah alangkah sangat lebih baiknya aku menyembukan diriku.

Ini mungkin adalah proyek seumur hidup, menyembuhkan diri sendiri. Mencoba berdamai dengan banyaknya rasa takutku yang bertipe-tipe itu. Mencoba melepaskan hal-hal yang tanpa sengaja mengikat diriku dimasa lalu. 

lalu, apa hubungannya ? Setidaknya dengan semakin aku mengenal diriku, semakin aku tau apa yang sebenarnya ingin aku tuju, maka sebuah pernikahan bukan lah suatu hal yang kujalani tanpa kesadaran penuh akan tanggung jawab dan tujuannya. Bahwa pernikahan adalah salah satu hal yang ingin kujalani dengan sepenuh hati. Bahwa ada tujuan besar yang ingin kujalani. Maka proses menuju kesana adalah dengan mengenal diriku terlebih dahulu. 

Pun tulisan ini dibuat, atas refleksi akhir-akhir ini mengenai pernikahan. Tekanan dari orang tua dari 3 tahun yang lalu mengenai pernikahan, Tekanan dari orang sekitar yang menanyakan tentang pasangan dan hubungan romansa yang terkadang menyudutkanku kini mulai kuhiraukan. Sudah tidak lagi merasa bahwa itu tekanan yang menyudutkanku, meskipun aku tidak pernah tau kapan aku sampai pada titik itu. Namun, ada sedikit lega pada akhirnya bisa sedikit demi sedikit dibukakan pandangan untuk mengahalau kecemasan dan semakin punya keyakinan yang kuat bahwa perihal jodoh sepenuhnya kuasa Allah. 

Jadi, kalau tanya jodoh lagi, aku telfun dulu jodohku yaa? terakhir masih diluar jangkauan. Sinyal belum terhubung. Faseku saat ini adalah menjalani apa yang seperlunya aku jalani. Bekerja dan belajar. Cukup itu dulu saja. hiks...

Komentar

Postingan Populer