Belajar idealisme menjadi guru dari Novel "Guru Aini"
“Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya. Secara menyedihkan kemudian mereka terseret arus deras sungai besar rutinitas, basa-basi birokrasi, sistem yang korup, budaya kantor yang tak membuat maju, formalitas yang palsu, yang jangankan akan mereka ubah, seperti cita-cita mereka semula, mempertanyakannya saja mereka sungkan. Demikian buruknya sistem itu, tanpa mereka sadar mereka perlagan berubah menjadi orang yang hanya mencemaskan operasional periuk belanga mereka sendiri. Sementara idealisme sudah raib, secepat dompet ketinggalan di bus ibu kota kabupaten Tanjong Hampat.” halaman 41
Hal yang membuatku sangat relate
adalah bagaimana semangat menjadi guru itu harus terus menerus dipertahankan.
Idealisme menjadi guru adalah keharusan. Dalam kurang lebih 1,5 tahun mengajar
ada begitu banyak hal yang mulai terpatahkan oleh teori dan keidealismean
seorang guru. Bahwa tugas mendidik manusia teramat begitu sulitnya. Tentang
segala kompleksnya manusia itu sendiri. Tentang satu kelas dengan kelas yang lain. Satu
siswa dengan siswa yang lain. Tentang budaya mengajar dan belajar pada guru dan
sekolah. Stereotipe siswa tentang persekolahan, yang tak jarang adalah untuk
formalitas. Ada begitu macam latar belakang mengapa hari ini
mereka datang kesekolah. Ada yang dengan suka cita belajar menuntut ilmu untuk
masa depan, namun tak sedikit pula yang merasa hanya rutinitas yang perlu
dilalui untuk anak seumuran mereka. Pandangan yang masih beragam tentang
pentingnya pendidikan. Terlebih lagi mengenai kesadaran belajar yang relatif
masih rendah. Kemampuan kognitif siswa yang beragam. Semua itu begitu rumit
untuk perlahan aku urai satu persatu.
Mendidik butuh sabar yang luas
dan disiplin yang teguh. Tangan kecil ini sedang meraba-raba tentang arah
langkah yang mungkin akan dipijak. Berkutat pada lingkungan pendidikan terutama
sekolah membuatku sadar untuk terus belajar dan tumbuh menjadi manusia. Sampai
pada akhirnya tentang segala kesulitan dan perasaan yang kuhadapi ini aku
dipertemukan oleh Novel Guru Aini. Betapa perjalananku mengajar ini adalah
proses, dan yang menentukan proses ini akan sampai pada apa adalah diriku
sendiri. Apakah aku menyerah atau tidak? Apakah aku lelah dan berhenti disini
atau terus melanjutkan misi ini?
Misi yang dipegang Guru Aini jelas,
seperti persamaan garis lurus dengan variabel-variabel yang didefinisikan sendiri yatitu x1:
pendidikan, x2: kecerdasan dan yang menarik perhatiannya adalah konstanta a:
pengorbanan. Pendidikan memerlukan pengorbanan, Pengorbanan itu nilai tetap,
konstan, tak boleh berubah. Sampai pada bertahun-tahun mengajar di Kampung Ketumbi,
Guru Desi tidak sama sekali melirik karir yang lebih gemilang dan kenaikan
pangkat, karena baginya urusanya akan rampung ketika ia mampu menemukan dan
membimbing anak untuk genius matematika.
Berikut beberapa kutipan dari novel tersebut:
"Tanpa idealisme, orang akan hidup dengan menipu diri sendiri. Dan tak
ada yang lebih lelah dari hidup menipu diri sendiri" (hlm. 68)
"Guru
yang baik adalah guru yang dapat memacu kecerdasan muridnya. Guru yang lebih
baik adalah guru yang dapat menemukan kecerdasan muridnya. Guru terbaik adalah
guru yang tak kenal lelah mencari cara agar muridnya mengerti" (hlm. 194).

Komentar
Posting Komentar