Belajar idealisme menjadi guru dari Novel "Guru Aini"

“Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya. Secara menyedihkan kemudian mereka terseret arus deras sungai besar rutinitas,  basa-basi birokrasi, sistem yang korup, budaya kantor yang tak membuat maju, formalitas yang palsu, yang jangankan akan mereka ubah, seperti cita-cita mereka semula, mempertanyakannya saja mereka sungkan. Demikian buruknya sistem itu, tanpa mereka sadar mereka perlagan berubah menjadi orang yang hanya mencemaskan operasional periuk belanga mereka sendiri. Sementara idealisme sudah raib, secepat dompet ketinggalan di bus ibu kota kabupaten Tanjong Hampat.” halaman 41
             Novel karya Andrea Hirata ini menceritakan tentang seorang guru matematika yang mengabdi di daerah terpencil Sumatera. Tokoh utama dalam cerita ini pun ditulis begitu unik, Seorang wanita muda yang sangat cerdas matematika dan mengabdikan diri di Sekolah Menengah Atas Negeri untuk mengajar matematika. Novel ini menceritakan perjuangan seorang guru yang penuh semangat dalam menghadapi tantangan di dunia pendidikan. Desi Istiqomah adalah namanya,  seorang guru matematika yang memiliki misi besar untuk membuat siswa-siswanya mencintai matematika. Perjuangannya ini menjadi semakin menarik dan seru untuk dibaca dan dinikmati ketika ia bertemu dengan Aini, seorang siswa yang awalnya membenci matematika namun memiliki tekad untuk belajar demi membantu ayahnya yang sakit. Penulis Andrea Hirata menggambarkan hubungan antara Bu Desi dengan Aini dengan begitu mendalam. Perjalanan mereka berdua tidak hanya menggambarkan transformasi seorang siswa, tetapi juga perjuangan seorang guru dalam mendidik dengan sepenuh hati di tengah keterbatasan fasilitas dan mentalitas lingkungan.

Hal yang membuatku sangat relate adalah bagaimana semangat menjadi guru itu harus terus menerus dipertahankan. Idealisme menjadi guru adalah keharusan. Dalam kurang lebih 1,5 tahun mengajar ada begitu banyak hal yang mulai terpatahkan oleh teori dan keidealismean seorang guru. Bahwa tugas mendidik manusia teramat begitu sulitnya. Tentang segala kompleksnya manusia itu sendiri. Tentang satu kelas dengan kelas yang lain. Satu siswa dengan siswa yang lain. Tentang budaya mengajar dan belajar pada guru dan sekolah. Stereotipe siswa tentang persekolahan, yang tak jarang adalah untuk formalitas. Ada begitu macam latar belakang mengapa hari ini mereka datang kesekolah. Ada yang dengan suka cita belajar menuntut ilmu untuk masa depan, namun tak sedikit pula yang merasa hanya rutinitas yang perlu dilalui untuk anak seumuran mereka.  Pandangan yang masih beragam tentang pentingnya pendidikan. Terlebih lagi mengenai kesadaran belajar yang relatif masih rendah. Kemampuan kognitif siswa yang beragam. Semua itu begitu rumit untuk perlahan aku urai satu persatu.

Mendidik butuh sabar yang luas dan disiplin yang teguh. Tangan kecil ini sedang meraba-raba tentang arah langkah yang mungkin akan dipijak. Berkutat pada lingkungan pendidikan terutama sekolah membuatku sadar untuk terus belajar dan tumbuh menjadi manusia. Sampai pada akhirnya tentang segala kesulitan dan perasaan yang kuhadapi ini aku dipertemukan oleh Novel Guru Aini. Betapa perjalananku mengajar ini adalah proses, dan yang menentukan proses ini akan sampai pada apa adalah diriku sendiri. Apakah aku menyerah atau tidak? Apakah aku lelah dan berhenti disini atau terus melanjutkan misi ini?

Misi yang dipegang Guru Aini jelas, seperti persamaan garis lurus dengan variabel-variabel yang didefinisikan sendiri yatitu x1: pendidikan, x2: kecerdasan dan yang menarik perhatiannya adalah konstanta a: pengorbanan. Pendidikan memerlukan pengorbanan, Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, tak boleh berubah. Sampai pada bertahun-tahun mengajar di Kampung Ketumbi, Guru Desi tidak sama sekali melirik karir yang lebih gemilang dan kenaikan pangkat, karena baginya urusanya akan rampung ketika ia mampu menemukan dan membimbing anak untuk genius matematika.

Berikut beberapa kutipan dari novel tersebut:

"Tanpa idealisme, orang akan hidup dengan menipu diri sendiri. Dan tak ada yang lebih lelah dari hidup menipu diri sendiri" (hlm. 68)

"Guru yang baik adalah guru yang dapat memacu kecerdasan muridnya. Guru yang lebih baik adalah guru yang dapat menemukan kecerdasan muridnya. Guru terbaik adalah guru yang tak kenal lelah mencari cara agar muridnya mengerti" (hlm. 194).

"Tak ada yang lebih membuat murid gembira selain berhasil mempelajari sesuatu. Dan tak ada yang membuat seorang guru gembira selain menemukan cara untuk mengajari muridnya" (hlm. 236)

Komentar

Postingan Populer