Membangun Fondasi

     

source image: pinterest

  Tentang cita-cita, tentang mimpi dan tentang bagaimana jalan hidup membawaku terus berjalan. Ketika dihadapkan pada pertanyaan apa cita-citaku? Itu sungguh sulit kujawab dengan lantang. Bukan, bukan karena aku bingung dan tidak punya cita-cita. Cita-citaku, mungkin aku ingin menjadi penulis? atau jadi pengajar? jadi guru? atau dosen? atau sesederhana ingin kerja di toko bunga dan punya kedai mie ayam?. Ah rumit yaa. Semakin dewasa, melalui berbagai macam hiruk-pikuk kehidupan semakin aku sadar akan peranku dalam kehidupan. Aku sadar untuk menyederhanakan mimpi dan fokus saja pada diri ini. Aku seorang perempuan, yang kelak semoga akan menjadi Ibu. Kalau aku bilang bahwa cita-citaku menjadi ibu, apakah kamu percaya? bukan tanpa sebab aku memutuskan itu, cita-cita sebagai ibu bukan juga karena pengguguran kewajiban peran seorang perempuan. Namun, suatu hal yang aku semogakan dan kuusahakan. Semoga Allah meridhoi. Aamiin

Dalam perenungan dan banyaknya hal yang aku lalui terutama dalam masa pandemi dan perkuliahan S1ku. Aku selalu tertarik dengan peran sebagai Ibu. Bahwa seistimewa itu perannya baik di dunia maupun akhirat. Membayangkan akan ada seorang anak yang aku didik, yang aku rawat, aku besarkan dengan penuh kasih sayang. Melihatnya tumbuh besar dalam jalan Allah. Melihat seseorang yang akan menjadi penerus kebaikan-kebaikan kelak. Sungguh indah, amat indah. Serta dalam perenunganku tentang ingin seperti apa aku menghabiskan hari-hari didunia, aku selalu ingin menjadi ibu yang baik.

Tidak ada kemuliaan terbesar yang diberikan Allah bagi seorang perempuan, melainkan perannya menjadi seorang Ibu. Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang:

"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?" Beliau berkata, "Ibumu." laki-laki itu kembali bertanya, "Kemudian siapa?", tanya laki-laki itu. "Ibumu". Laki-laki itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?", tanya laki-laki itu. "Ibumu", "Kemudian siapa?" tanyanya lagi. "Kemudian ayahmu". jawab beliau." (HR. Al-Bukhari no 5971 dan Muslim no. 6447.

Sebesar itu kemuliaannya, sebesar itu pula diri ini ingin benar-benar mau mengusahakannya. Terlebih ketika kita sering mendengar ungkapan bahwa 

"Al ummu madrasatul ula (Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya).

Ungkapan ini pula yang menjadikan diri ini semakin sadar untuk terus-menerus belajar bagaimana caranya menjadi ibu yag baik. Dengan kesadaran penuh bahwa kelak dalam rahimku akan lahir seorang anak manusia yang dititipkan oleh Allah, maka aku pun mulai sadar untuk lebih sungguh-sungguh dalam mendidik diri sendiri terlebih dahulu sebelum mampu mendidik anak-anakku kelak. Peran yang mulia ini pun tidak mudah untuk dilalui, seperti yang kita tahu bahwa ketika ibu melahirkan, dia sedang berjuang bertaruh nyawa. Ketika ibu harus begadang dan membagi waktu untuk merawat sang bayi, meluangkan waktunya dan fokus mendidik anak dari masih dalam perut hingga akhir hayatnya. Penuh perjuangan dan pengorbanan, dan menjalaninya penuh dengan persiapan. Peran ini membutuhkan pembagunan fondasi yang benar dan kuat untuk mewujdukannya.

Bagaimana aku akan menjadi ibu? Seperti apa aku akan menjadi ibu? dan Kapan aku menjadi ibu?

Mungkin untuk sekarang memang belum mampu kuwujudkan cita-cita ini. Yaaa, sementara jadi ibu guru dulu aja lah yaaa. Sembari menata hati, memperbaiki ibadah dan belajar bagaimana istiqomah dijalan Allah.


Komentar

Postingan Populer