Fiksi_ka

     Banyak bertemu dengan manusia lain yang bertanya, kenapa ambil Fisika? kenapa ambil pendidikan Fisika? kenapa jurusan Fisika?. Namun kalau boleh saya cerita, semua karena hal yang mungkin sangat remeh temeh. Suatu alasan yang tidak masuk akal, namun sampai membawaku untuk hari ini. Saat itu, aku masih ingat. Aku mencita-citakan masuk jurusan Psikologi dari SMP, itupun karena membaca salah satu buku yang sekarang pun aku lupa judul bukunya. Di buku itu menceritakan perjalanan seseorang melewati masa-masa depresi. Dari buku itu pula, aku merasa terilhami bahwa manusia itu sangat kompleks, manusia bukan sekedar Raganya saja, dia punya ribuan lapisan jiwa yang tak kasat mata. Jiwa yang bahkan kita tak pernah menyadari keberadaanya namun erat dengan keseharian. Psikologi mempelajari banyak hal perilaku dan mental seseorang. Terlihat seperti menyenangkan, mampuu mengenal lebih dalam manusia lain, mempelajarinya dan mengobatinya, mungkin. Pemikiran menjadi psikolog tak berhenti ketika SMA, mengetahui banyak persoalan hidup, mengerti bahwa dunia tak pernah baik-baik saja untuk manusia, dan beranggapan bahwa semakin hari akan ada banyak orang yang membutuhkan psikolog adalah pemikiran bulat ketika pada akhirnya aku memilih jurusan Psikologi untuk SNMPTN 2019.

    Namun ternyata aku tak segigih itu untuk mengejar cita-cita menajdi psikolog. Percobaan pertama gagal, aku sudah merencanakan plan B yaitu masuk jurusan pendidikan saja. Meski pikirku, ya kali hidupku bakal kuhabiskan hanya di sekolah? Namun yaaa, jalan takdir ini berjalan dengan apa adanya. Aku memilih pendidikan fisika untuk pilihan kedua. Itu pun dengan berat hati dan tidak banyak pertimbangan, kau tau kenapa pada akhirnya fisika?. Seperti banyak anak-anak SMA lain pada umumnya, saya juga pembaca novel yang lumayan intens, meski semua novel adalah pinjaman. Dimulai dari bertemu sosok Esok di Novel Hujan karya Tere Liye, sosok penolong Lail yang ternyata sangat jenius dalam hal sains. Saat itu mungkin kali pertama saya jatuh cinta pada tokoh fiksi. Selang tak lama saya pun dikenalkan lagi dengan sosok nyata yaitu kakaknya teman sebangku kelas 10 SMA yang menang olimpiade Fisika di Bangkok, Thailand 2011. Jangan membayangkan perkenalan secara langsung, karena perkenalan ini hanya sepihak, hanya diberi cerita saja, kakaknya waktu itu sedang kuliah Fisika di Singapura dan akan berangkat ke UK. Sungguh takjud sekali saat itu, bahwa Fisika mungkin akan semenarik itu? kenapa Fisika semenarik itu ? Kenapa Fisika? . 

    Berselang tak lama, lagi dan lagi aku seperti terjebak di Fisika. Entah bagaimana tiba-tiba nama saya sudah ada di deretan peserta olimpiade fisika tingkat SMA sekota yang diselenggarakan Primagama di USB Mojosongo. Jangan berpikir saya yang dengan kesadaran penuh mendaftar, karena sama sekali tidak seperti itu. Tiba-tiba saja ditunjuk tanpa alasan dan dasar apa serta tanpa persetujuanku. Waktu itu pikirku hanya mengugurkan permintaan yang mendaftarkan dan tempak pelaksanaan tidak jauh dari rumah, yaudahlah ya datang aja. Selama mengerjakan jelas ngawur dan ngawur. wkwk. Namun, mataku tertuju pada sosok pria yang dalam hati aku berkata, pasti dia bakal menang lomba ini, dan ternyata benar. Mungkin intuisiku sangat kuat kali itu, atau aku naksir masnya :v . Itu pertemuan kesekianku bertemu dengan orang yang sangat cerdas mengenai fisika. Sekarang mas olim itu mendapatkan beasiswa di LNG Academy dan menlajutkan studi ke Taiwan dengan jurusan Teknik Mesin. Keren bukan? keren banget oii.

    Alasan yang mungkin masih bisa diterima kenapa pada akhirnya saya memutuskan mengambil fisika, ya karena di rapot nilai paling bagus selain matematika ya fisika. Meski UN Fisikaku sangat rendah. wkwk. Kenapa pendidikan ? karena sejujurnya saya waktu SMA agak sedikit terpaksa mengambil IPA, pengen banget bisa masuk jurusan IPS, dan mungkin kalau saya mengambil pendidikan setidaknya belajar selain Fisika itu masih memungkinkan terjadi. Yaaa karena rentetan kejadian-kejadian masa SMA itu yang membuat saya terjebak di Fisika sampai sekarang sedang lanjut studi S2 Pendidikan Fisika sembari menjadi guru fisika di SMA. Tanpa alasan kemampuan, karena fisika memang sesusah itu, dan kemampuanku cukup rendah menguasainya. Masih perlu banyak waktu untuk mampu memahami fisika lebih dalam. Semua mungkin sudah ditakdirkan untuku. Setiap hari bertemu dengan fisika, mengajarkannya, belajar tentangnya, melihat dunia dengan cara pandang fisika, dan berteman dengan manusia-manusia yang mencintai fisika. 


Komentar

Postingan Populer