Bukuku
Bisa ku katakan buku menjadi teman tumbuh paling baik dalam semua kondisi yang sedang kualami. Ketika semua teman baik mulai sibuk dengan segala hiruk pikuk kehidupan. Satu satunya teman adalah bukuku. Buku yang kubaca saat itu. Mengajariku banyak hal bagaimana melihat dunia saat ini. Mungkin jika aku boleh jatuh cinta dan menghabiskan waktuku sepenuhnya, aku kan memilih kuhabiskan waktuku untuk buku. Seharian, berhari hari dan selamanya bersama buku. Belum pernah aku merasa kecewa kepadanya, atau pun tersakiti. Lucu kalau kita mengandaikan manusia yang kita temui seperti buku, karena buku tak pernah benar benar mampu menyakitimu lewat tulisan yang kau baca, namun manusia sering menyakitimu lewat perkataan, perbuatan dan segala hal yang melekat padanya. Jadi buku dan manusia memanglah suatu hal yang tidak bisa disamakan.
Lewat satu buku, aku dapat mengerti banyak hal tentang bagaimana dunia ini bekerja dan tentang banyak hal yang sering terlewat begitu saja. Benar yang dikatakan guru SD ku saat itu, buku adalah jendela dunia. Meski baru sedikit yang kutau namun rasa-rasa setiap hari aku semakin penasaran tentang banyak hal yamg terjadi di dalam hidupku. Selalu merasa bahwa buku adalah salah satu media untuk menemukan jawaban dan jalan keluar dari segala rasa penasaran yang hadir. Lewat kata demi kata hingga jadi puluhan ribu kata kubaca. Lewat halaman yang menceritakan cerita ataupun menjelaskan pemikiran. Lewat latar belakang penulis, editor dan banyak hal yang melekat pada proses buku itu jadi hal yang selalu ingin masuk kedalam pusarannya.
Aku memang bukanlah manusia peng'gila' buku, seperti mereka si kutu buku. Aku hanya selalu merasa erat, dekat, dan hangat ketika bersama buku. Membaca satu demi satu, melahap bab demi bab. Ada rasa bahagia yang tidak kutemui di aktivitas lainnya.

Komentar
Posting Komentar