Knowing my self 1

 Untuk sebagian orang yang ternyata punya intuisi untuk mendengarkan adalah sebuah anugerah dan juga bencana di saat yang bersamaan. Berkata terlalu banyak menjadi suatu hal yang menakutkan. Menjadi seseorang yang terbuka sekaligus menutup diri. Mendengar segala kisah pilu, duka, suka, bahagia dan menyedihkan menjadi hal yang cukup mewarnai hari-harinya sampai ia lupa akan diri ini sendiri. Ketika sudah sampai pada waktu tak mampu lagi membendung emosi dalam diri, dia bingung harus kemana untuk sekedar bercerita. Pada akhirnya memendam jadi jembatan untuk menumpahkan segala perasaan dalam dada. Karena logika selalu bicara untuk menyuruh sang mulut diam, dan perasaan bergejolak untuk segera utarakan. Lewat tulisan, lewat doa, dan lewat menangis atau bahkan melamun, medium-medium yang aneh tapi nyata mereka pilih.

Kadang tak sampai hati untuk mengeluh, namun malas juga tak pernah kunjung hilang dalam raga. Perasaan-perasaan ingin dimengerti orang lain yang menyiksa yang pada akhirnya dia lakukan untuk bersikeras mengerti orang lain. Perasaan -perasan ingin didengar dia balik untuk mati-matian turunkan ego demi mendengar kisah cinta orang lain. Perasaan-perasaan yang tak mampu ia dapatkan berubah terbalik begitu saja baginya. Prinsipnya cuma satu, mungkin saja dirinya tak mampu meraihnya, tak bisa mendapatkanya tapi bukan berarti orang lain juga tidak dapat meraih dan mendapatkannya. Menjadi seperti lilin yang menerangi namun membakar dirinya sendiri. Sungguh bencana bagi diri sendiri.

Namun, lewat mendengarkan banyak hal. Bahkan mendengarkan hal-hal yang tidak terdengar oleh panca indera telinga membuat begitu mudahnya berempati. Empati, namun masih saja berusaha untuk menyembunyikan kepekaan ini.

Komentar

Postingan Populer