Kita berteman dengan sebentar
Mungkin salah satu dari kita berpendapat bahwa ini semua hanya kebetulan saja. Kebetulan kita saling ditakdirkan untuk bertemu. Dari sekian ribu mahasiswa. Disatukan dengan 9 kepala manusia lain yang sungguh beda cara pandang mereka terhadap kehidupan, membuatku sadar bahwa hidup tidak hanya tentang satu orang saja dan satu sudut pandang saja. Mungkin kita jauh dari kata baik untuk dikatakan sebagai sebuah tim yang kompak. Berkali-kali mencoba untuk saling menutup belang masing-masing. Namun siapa yang merasa memiliki pasti dapat mengambil arti dari semua ini. Lebih dari itu, rasa setengah hati menjalani juga melekat erat diingatanku waktu awal kumulai. Jadi pengalaman pertama tinggal 45 hari bersama 9 orang yang baru pertama kutemui. Bukan kerinduanku pada rumah yang membuatku berjalan setengah hati. Tapi banyak hal yang kutinggalkan.
Ada ada saja memang kehidupan. Di tempat itu jelas kutitipkan sekilas tentang banyak hal baru. Tentang pertama kalinya aku melihat wayang. Tentang pertama kalinya mengajar di SD. Tentang pertama kalinya ikut Posyandu. Tentang pertama kalinya tinggal di Balai Desa. Mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hari-hari kulalui dengan hati-hati, takut ada banyak hal buruk terjadi. Peranku ditempat ini mungkin juga hanya tentang ada dan tiada. Mungkin memang itu yang kumau. Terlihat biasa saja. Bukan menjadi si-paling dan melihat kalian sebagai teman.
Tak semua orang mampu memahami kita, dan kemampuan kita untuk beradaptasi dan membaur adalah kunci dari sebuah kehidupan bermasyarakat. Sopan santun, tata krama jadi poin penting yang setelah ini semakin aku pelajari. Banyak hal untuk tidak menghindari masalah. Aku datang dengan baik, berpisah pun juga tak ingin kutinggalkan hal buruk pada kalian. Berusaha untuk tumbuh dewasa memang tak mudah. Banyak hal yang rasanya aku ingin menyerah. Tentang senyum yang terus kupaksa meski hatiku sedih. Tentang diam yang kucoba meski rasanya ingin bercerita.
Waktu begitu cepat berlalu, itu yang hampir kami semua rasakan. Hal menakjubkan yang kulihat adalah, proses dalam ruang-ruang kelas. Seperti membangunkan jiwa yang telah lama tidur. Proses pembelajaran, dari hal yang tidak diketahui menjadi hal yang mulai dipahami. Aku melihatnya jelas di depan mataku dan dengan senyuman. Seperti berkali-kali mencoba membawaku ke dunia lain. Proses belajar, bertemu anak-anak, mengajarkan sesuatu hal baru. Aku tiba-tiba rindu banyak hal tentangku di masa lalu.
Kulihat lagi, mungkin sering kumerasa kesepian. Dibalik senyum dan sapaan yang kuberikan. Terdiam dan mendengarkan sekitarku. Dari situ aku sadar, banyak hal yang perlu kusyukuri. Tentang masa kecilku yang tak pernah lepas dari tangan ibu, sampai sekarang. Tentang orang tua yang utuh membersamaiku tumbuh. Tentang kehidupan persekolahanku yang beruntungnya diriku dapat bersekolah di Solo. Harus kuucapkan terima kasih pada semua orang yang kutemui selama 45 hari kemarin. Dipertemukan dengan banyak hal baik dan orang baik. Terima kasih telah hadir dalam bagian kecil yang berarti dalam hidupku. Aku banyak melihat ketulusan dari kalian semua. Tulus mengabdi untuk kebaikan kehidupan.
Tentang kesederhanaan yang tak hanya dalam pikiran namun bagaimana kita menjalani hidup. Lagi-lagi, diakhir ku dipertemukan dengan orang yang semangat untuk membangun pendidikannya tinggi sekali. Berkali-kali berkata untuk jangan menyerah di dunia pendidikan. Menjalani awal langkah nya dengan Kuliah, Kerja dan Nikah. Kesimpulan yang kuperoleh, bukan perihal seberapa besar pengaruhmu, tapi seberapa banyak kehadiranmu yang spenuh hati yang dapat membuka begitu banyak hal bermakna.

Komentar
Posting Komentar