Semoga, iya
Perlahan saja kataku untuk diriku sendiri. Menaruh harap pada diri sendiri. Mencoba memperbaiki diri dari ribuan badai yang kubuat sendiri. Mencoba berdamai dengan target yang tak tercapai dan kecewa yang perih. Mencoba berhenti menangisi tanpa arti. Sejujurnya aku takut untuk kembali menulis mimpi, setelah ribuan mimpi terlewat sia-sia. Sibuk tak berguna. Tapi mungkin ini bagian paling penting dalam hidup, yaitu menerima diri sendiri. Rasa gagal selalu mencekik, menahanku untuk berjalan. Kecewa pada diri sendiri membuatku susah untuk bangkit tapi semua tak mengerti.
Refleksi diri dan berkali kali memutar rekaman diri membuatku mungkin saja sadar, bahwa yang berlalu biar lah berlalu. Mungkin juga aku kesepian, karena jalan yang kulewati begitu hening, ramai disekitar tak pernah bisa masuk. Iya, benar. Aku memang kesepian. Atau mungkin diri ini yang membuat seolah olah kesepian. Aku bingung. Harus bercerita seabstrak ini pada siapa selain pada diri sendiri (?). Mencari jawaban atas sejuta tanya pada siapa jika bukan pada diri sendiri (?). Kadang kulibatkan diri, mengadu pada Sang Pencipta, dan tentram kudapati disana meski jawaban pasti belum kuperoleh.
Aku mengadu kepada-Nya, perihal tanggung jawab yang belum kutuntaskan. Aku bingung harus bagaimana (?).
Dan ini salah satu usahaku, agar begitu banyak yang kupendam tak jadi derita. Susah bagiku bercerita. Karena begitu abstraknya. Namun, satu persatu kutuliskan. Semoga saja yang membaca dapat menghubungiku. Menanyakannya. Hal yang kutunggu dari semua temanku orang yang ku sayang. "Apakah ada hal yang belum kau selesaikan ga? Butuh bantuan ?, Ayo kutemani."
Sering kubilang kata semangat tak lagi bisa kudengar, karena kesepian yang lama kulewati.
Terlihat lebay tapi begini adanya.
Grajegan, 25 Agustus 2022
01.45 WIB

Komentar
Posting Komentar