Ternyata Sia-Sia
Kadang kita sering dipertengahan perjalanan ataupun aktivitas merasa bahwa apa yang kita lakukan ini sia-sia, cuma dapat capeknya aja. Membuang-buang waktu yang mungkin aja bisa dilakukan untuk hal yang lebih produktif. Atau kita sering di tempatkan pada hal yang sudah berlalu dan merasa apa yang kemarin kita lakukan adalah hal yang membuang-buang tenaga, waktu dan pikiran. Mungkin untuk sebagian orang akan berkata seperti itu ketika hasil yang mereka peroleh jauh dari apa yang mereka harapkan. Rasa menyesal dengan keputusan atau takdir yang membawanya ke hal itu. Mungkin juga itu wajar kita rasakan sebagai manusia.
Mungkin ketika kita melihat hal ini sebagai hal yang sia-sia, kita sedang menutup diri untuk terus berproses. Proses tak melulu sesuai dengan apa yang kita rencanakan, semua hal bisa terjadi tanpa kendali kita. Kadang yang sudah kita pikirkan akan berhasil saja bisa jadi gagal. Tentang penerimaan hal buruk dalam hidup kita sudah jadi hal paling susah untuk dijalani. Seni untuk keluar dari masa-masa merasa melakukan hal yang ternyata sia-sia itu saja butuh ribuan bab panjang untuk menuntaskan. Belum lagi pas kita lagi capek-capeknya jalani hidup yang gini-gini aja. Asumsi dalam diri kita pasti selalu "Ternyata sia-sia." apa yang sudah kulakukan kemarin membuat diri ini makin hari, makin terpuruk.
"Menggenggam tanah menjadi emas"
Kalimat ini pernah kutemui di salah satu buku kumpulan esai dari Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Selalu aku ingat kembali, bahwa disaat saat dimana seakan akan hidup ini tak lelahnya seperti bukan lagi manuisa, ketika kerja tangan jadi kaki, kaki jadi tangan dan bukan kesuksessan yang kita terima serinnya kita malah memarahi apa yang sudah terjadi, padahal semuanya tergantung pada diri kita sendiri. Kita yang merasakan lelah, tapi kita sendiri yang dapat mengendalikan lelah itu menjadi keluh atau semangat untuk hari esok rasa syukur untuk kehidupan.
Tak seorang dari kita yang mau dan dengan mudah rela jika kerja keras kita tak berbuah manis. Namun dari hal ini kita belajar untuk menerima takdir, mencoba untuk membungkus perih dengan bahagia. Bukan, bukan untuk menolak perasaan kecewa itu. Tapi belajar bahwa hal buruk pun bisa terjadi kepada diri ini dan dengan sabar serta ikhlas kitalah semua akan berjalan membaik. Bahwa manusia begitu lemah, takdir bukan kita yang tulis.

Komentar
Posting Komentar