Membaca dan Ruangannya
Membaca, sebuah aktivitas yang sudah kulakukan semenjak kecil. Entah kapan persisnya aku bisa membaca huruf-huruf abjad ini. Suatu aktivitas yang secara tidak langsung ditanamkan dalam diriku, bahwa membaca adalah kebiasaan yang baik dan perlu untuk dilakukan. Beruntungnya, diriku tak pernah menolak itu. Menikmatinya, mungkin bisa dikatakan seperti itu.
Kurang lebih 11 tahun yang lalu, waktu diriku masih duduk bangku SD. Masa-masa dimana diriku masih belum mengerti apa itu kehidupan ?. Ya, aku juga lupa siapa yang mengajakku pergi ke perpustakaan sekolah, yang masih ku ingat bahwa dibangunan baru dipojok belakang SD ku bekas sebuah sumur tua ada sebuah perpustakaan. Okey, stop membayangkan perpustakaan yang berisi banyak buku, karena yang kulihat adalah ruangan itu kecil seperti gudang menyimpanan buku. Banyak diantara temanku yang jika aku tidak salah ingat juga ikut pergi keperpustakaan itu, meski memang hanya iseng dan ingin melihat seperti apa sebenarnya perpustakaan sekolah. Dari situlah kira-kira aku mengenal yang namanya perpustakaan. Mungkin saja sekarang sudah lebih baik.
Beranjak ke bangku SMP, perpustakan di sekolah lebih besar daripada waktu SD. Namun jarang sekali yang mengunjungi begitu pula waktu aku SMA. Perpustakaan sering digunakan untuk ruang teman-teman yang sedang dihukum atau untuk ruang remedial. Namun, di perpustakaan SMP lah aku menemukan suatu buku yang mebuatku jatuh cinta. Tapi sayangnya, aku saja lupa judul bukunya. Buku itu buku lama, cetakan penerbit balai pustaka. Buku yang menceritakan dua orang yang saling jatuh cinta namun terhalang oleh adat dan budaya. Buku yang lain yang menceritakan tentang gangguan jiwa juga membuatku jatuh cinta dengan membaca dan membuka pikiranku untuk bercita-cita menjadi psikolog. Tak hanya itu, buku yang menceritakan tentang kekerasan seksual juga memberikan wawasan baru untuk anak umur 13 tahun.
Sampai aku dikenalkan temanku yaitu perpustakaan daerah kota Solo, aku sering mengunjunginya ketika SMA, entah itu sendiri atau bersama teman-temanku. Di perpusda koleksi novelnya lumayan banyak dan variatif serta up to date. Banyak novel populer berada disana. Bahkan kata "Anomali" yang sering aku pakai sebagai identitas pun kutemukan di salah satu novel di Perpusda. Sebuah buku yang menceritakan perjuangan underground dari sekelompok yang dinamai anomali. Perjuangan melawan pemerintahan yang sangat diskriminatif terhadap mereka.
Aktivitas membaca sudah membawaku ke mungkin puluhan atau ratusan buku dengan berbagai genre. Menelusuri ruang waktu yang aku tak pernah tau. Merasakan perasaan yang tak pernah aku alami. Ikut tenggelam dalam ratusan cerita tokoh utama dalam dunia mereka. Serta membaca banyak pemikiran, ide dan gagasan yang terkadang saling kontradiksi, membuatku lebih menjadi tau bahwa dunia tidak sedang dalam satu paradigma yang sama. Bahwa manusia hidup dengan pemikirannya masing-masing.
Aku tidak pernah mengerti membaca dan ruangannya menjadi suatu hal yang sangat banyak sekali mengubah hidupku. Proses dari tidak tau menjadi tau bagai candu untuku. Mungkin sulit membayangkan dan membiasakan membaca buku yang berisi 500 halaman atau bahkan lebih untuk selesai dibaca. Bahkan yang hanya 100 halaman saja kadang sudah cukup membosankan. Maka membacalah dari hal-hal yang paling disukai. Selamat membaca ^_^

Komentar
Posting Komentar