Bunga Terakhir di Kematianku (LANJUTAN)
"jalanan kali ini tak cukup sepi untuk diriku yang lagi-lagi susah melupakan seseorang yang cukup berarti."
"kau lihat ra, tak seorang pun manyadari hal itu, semua sibuk dengan hidupnya masih-masing. berhentilah bersedih. tak ada yang peduli jika ada seorang gadis yang sedang bersedih dijalanan kota malam ini."
"tidak, bukan seperti itu. Semua akan baik-baik saja kalau seandainya aku tak pernah datang terlambat hari itu. membiarkan dia pergi begitu saja tanpa kata perpisahan."
Dua anak manusia duduk menatap jalan raya di depannya, yang satu sibuk sendiri dengan segala lamunannya, yang satunya lagi memilih menatap dia yang sedang melamun. Dingin malam itu, terlebih bahwa tadi sore hujan hadir sekedar membasahi bumi dan pergi begitu saja.
"Ra, mau sampai kapan kamu disini? hari semakin malam dan sekarang semakin dingin, semakin malam tempat ini semakin sepi."
"masih teringat jelas tawanya, bayangan kehadirannya. disana tepat di depan kita."
"Ra... ayolah, kamu jangan seperti ini terus. Mau sampai kapan?. Ayo kita pulang."
"Apakah jika aku pulang bersamamu sekarang, besuk dirimu mau menemaniku lagi?"
"Iya Ra, aku mau."
"Oke baiklah, mari kita pulang."
Semenjak peristiwa kepergian itu, Ara lebih suka melamun di tempat ini. Taman yang dulu begitu penuh dengan tawa dari lima orang sahabat. Tak pernah ada dalam pandangan mereka untuk pada akhirnya ada yang meninggalkan yang lain. Dari mulai obrolan tentang mengapa langit itu biru sampai jurusan apa yang akan dipilih waktu kuliah, semua mereka habiskan disini. Andai saja pohon beringin yang tepat berada di depan tempat duduk mereka mampu bersuara, pastilah dia juga cukup sedih melihat ini. Bahkan dari tadi penjual ronde tak henti-hentinya menawari ronde gratis untuk mereka, karena iba melihat kesedihan yang sedang dirasakan.
Waktu begitu cepat berlalu, masing-masing dari anak manusia terkadang tak sempat untuk merekam. Sepenggal bait untuk esok hari pun sudah tertulis jelas dan menjalani perjalanan hidup ini adalah tinta hitam itu. Tanpa ada pengulangan , semua yang terjadi tak akan bisa lagi diulang. Baik-buruk peristiwa hanya bisa dijalani. Namun manusia punya perasaan, untuk senang, sedih, kecewa, dan nyaman.

Komentar
Posting Komentar