Rumah Kertas
“Membangun perpustakaan adalah mencipta
kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku
belaka.” (hlm. 26)
Membaca, membeli buku dan
membangun perpustakaan. It's a big dream for me. Let's see howlong it
will last. I don't know when.
Ada satu cerita yang belum sempat tertuliskan oleh
penulisnya, tentang mimpi dan mungkin juga segala hal yang membersamainya.
Waktu itu belum genap umurnya enam tahun. Pikiran polosnya dan segala hal yang
tidak diketahui tentang bagaimana esok akan datang untuknya. Menjelma pagi buta
yang kesepian, melewati masa-masa sekolah dasar yang lama dengan teman yang
itu-itu saja membuatnya memiliki banyak teman dan banyak masalah. Dia tak
pernah belajar mengenai kenapa dia harus di musuhi oleh temannya ketika dia
melangkahi ranking teman sebangku waktu kelas 3. Dia tak pernah benar-benar
paham bahasa yang digunakan ibu itu untuk memarahinya ketika dia tidak mengajak
anaknya bermain. Dia hanya anak-anak, belum sampai untuk berfikir bahwa yang
dilakukannya itu kadang membuat orang lain tak nyaman. Bahkan untuk menuliskan
cita-citanya saja dia tak pernah yakin, yang dia inginkan adalah dia sangat
suka sekali membaca, menulis puisi dan menulis kata-kata yang selalu meluapkan
isi hatinya. Sepanjang sore sembari menemani ibunya masak di dapur dia sering
duduk ditangga membawa pita kaset dan walkman untuk memutar lagu-lagu dimana
dia sendiri belum lahir.
Dia pernah bermimpi atau
setidaknya pernah berkhayal, kelak bila waktunya tiba dia ingin sekali bisa
masuk surga, dan kau tau kenapa? dalam bayangannya ketika di surga semua yang
ia minta akan terkabul. Dia hanya meminta satu, dia ingin sekali tau segala isi
pengetahuan yang ada di semesta ini baik yang ia tidak pelajari sampai hal-hal
yang bahkan dia tidak tahu bahwa itu ada. Dari mulai bagaimana semesta di
bentuk, kenapa orang saling membenci, bagaimana awal terjadinya hal-hal yang
ambigu dan beberapa paradoks yang terjadi di dunia ini. Namun, hidup tak
semudah kita bekhayal. Baru saja ia tamat sekolah dasar, ada banyak hal yang
membuatnya menyerah terlebih dahulu oleh keadaan.
Tiap hari khayalannya kian pudar,
dan makin sirna. Tak ada lagi hal yang bisa menguatkanya kembali. Mungkin dari
membangun perpustakaan itu bisa jadi langkah awal untuk dirinya menciptakan
kehidupan. Tak pernah ada yang bisa benar-benar merampungkan semua pengetahuan
di muka bumi ini. Namun segala hal yang tak mungkin bisa terjadi jika keyakinan
kita kepada pemilik kita kuat adanya.

Komentar
Posting Komentar