Kusut tak kasat
Segalanya tentang menulis adalah bagaimana kita membuat kerangka berfikir. Menulis mungkin bisa jadi hal yang tidak disukai padahal aktivitasnya sangat sederhana. Disisi lain, ada banyak orang yang hidup dari imajinasi yang ia tulis menjadi sebuah karya. Tulisan menjadi perantara bisu yang menghubungkan banyak orang. Menjadi jawaban yang terdiam untuk sekelompok orang yang mencari. Rangkaian kata yang menjadi satu kesatuan, yang suaranya tak lekang oleh zaman. Abadi untuk selamanya. Membiarkan penulis hidup melewati zaman-zaman yang tak pernah terbayang.
Menulis membuatmu abadi. Namun tak ada penulis yang tak banyak membaca. Ditinggalkannya kertas untuk beralih ke digital. Memberikan keabadian yang semakin nyata. Tak banyak orang bisa menulis, bukan karena ia tak bisa sebenarnya. Namun sedikitnya bahan bacaan menjadikan tak selesai barang separagraf. Sudah jadi rahasia umum, menulis dan membaca adalah hal sederhana yang kadang orang lewatkan. jika saja satu hari dapat menyelesaikan satu halaman full, sudah pasti satu tahun sudah bisa jadi novel. Budaya membaca, budaya menulis di masyarakat kita sangat rendah sekali. Banyak orang sekarang lebih asyik scroll medsos berjam-jam daripada membaca satu halaman buku, atau satu paragraf tulisan di blog. Itu saja masih enggan di sebut "miskin pengetahuan"
Beginilah adanya, untuk membentuk budaya literasi kita haruslah membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Kebiasaan membaca dan menulis. Namun itu bukan hal yang sederhana. Masih saja berfikiran bahwa hidup itu siklus, jadi hal paling susah untuk menentangnya. Kadang penulis berfikir apakah kita masih jadi mental terjajah, sulit untuk berfikir mandiri, merdeka tak hanya secara kenegaraan dan simbolik namun juga merdeka pengetahuan. Atau feodalisme yang sangat kental di masa lalu yang membuat kita enggan berfikir bahwa pengetahuanlah yang bisa membuat kita memaknai apa itu hidup. Jangankan budaya literasi, budaya ilmu saja kita masih merangkak.
Agaknya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka jadi sebuah terobosan baru untuk masalah ini. Namun dengan segala keringkihannya masih saja dipaksa untuk berlari. Ada banyak yang mengambil kesempatan emas ini, namun tak sedikit ikut bingung dibuatnya. Terlalu banyak pilihan terkadang malah membuat enggan memilih. Kesempatan belajar yang sangat terbuka ini kadang masih saja direpotkan dengan masalah administrasi yang kolot dan regulasi yang masih prematur. Merdeka Belajar, jadi jawaban atau malah boomerang untuk kami generasi yang katanya butuh "kemerdekaan".

Komentar
Posting Komentar