Bunga terakhir di kematianku

    Di sudut kota itu tak jauh dari terminal, tempat ramainya orang berlalu lalang, pastilah tak ada orang mengenal sosok remaja yang mengkayuh sepedanya terlalu cepat, bangun pagi terlalu terburu-buru, tak sempat memakai ikat pinggang padahal dia tau celananya tak sesuai ukuran. Dia bukan di buru waktu karena gerbang sekolah pun belum juga dibuka. Dia sedang dikejar dengan citanya sendiri, menerjang begitu banyak hambatan untuk keluar dari jeratan. Mungkin jalannya boleh pincang, wajah tak enak dipandang. Namun dia tak pernah ragu dan berkurang tingkat kepercayaan dirinya, baginya tak ada yang lebih menakutkan daripada terjebak dengan pemikirannya sendiri. Sudah dua tahun dia putus sekolah dan tepat dua tahun juga ibu yang menemaninya dari lahir pergi meninggalkan dirinya yang masih belum genap lima belas tahun. Terlalu rapuh untuh hidup sendirian, ia pun diajak bibinya untuk membantu di pasar. 

    Hingga akhirnya ban sepeda yang dia kayuh berhenti tepat di depan pedagang koran. Membeli koran setiap pagi adalah kebiasaannya, dia tak pernah tau bahwa dunia sudah secanggih ini. Berita apapun dan dimana pun semua dengan mudah diakses lewat internet. Baginya waktu terus berputar untuk mereka yang berlari ke masa depan, dan jutaan teknologi canggih itu semakin mempersingkat waktu yang ada. Tak sesuai dengannya yang selalu terjebak dengan masa lalu, yang mengalir menikmati waktunya. Pagi ini tak begitu indah, mendung datang seperti ingin meluapkan. Angin pun berhembus begitu dingin. Andai saja sosok ini tak lagi sedang bahagia pastilah ia memilih untuk kembali lagi terjun ke selimutnya. 

    "Bunga Terakhir di Kematianku" judul dari cerpen yang ada di koran itu. Ya, tentu saja. Bukan halaman depan dan update berita serta wawasan yang sebenarnya jadi alasan ia membeli koran. Ada salah satu penulis cerpen di koran itu yang jadi favoritnya, tak hanya favorit dia sudah tergila-gila dengan penulis itu. Dan hari ini, dengan penuh semangat dia membaca. 

    Cerpen kali ini menceritakan seorang gadis yang selalu dikirimi bunga oleh orang yang tidak diketahui siapa. Dan penulis, menulisnya dengan sudut pandang ketiga. Belum sempat Dia membaca paragraf kedua, tiba-tiba hujan turun. Mengayuh lagi sepeda dan mencari tempat berteduh. Hujan, Pagi hari dan juga cerita pendek yang belum usai.

Komentar

Postingan Populer