CUE #1
Menjelang umur berganti, Raga ini mulai tak karuan. Rasa sesal tak mau mengulang, dan rasa malas yang terus membuncah. Sempat hati inginkan untuk menyerah, tapi yang benar saja? pikiranku tak izinkan. Raga ini begitu ringkih.. Raga ini kecil, tak begitu mudah menggerakkan yang besar, yaitu rasa takutnya. Untuk dikemudian hari, Berdiam bukan hal yang baik. Semakin keruh yang Raga rasakan. Bergerak pun tuk terus berfikir. Kau tau banyak hal yang terlewat. Banyak hal buruk yang terjadi. Dan sedih tak pernah pergi. lebih dari itu hal baik pun tak pernah usai untuk disyukuri.
Raga Pernah bertekad, untuk wujudkan apa yang jadi mimpi. katanya"Agar tidak menjadi mimpi di atas mimpi".
Raga pernah berjanji agar langkahnya tak pernah berhenti. Meski yang lain mendahului. Meski seringnya lupa cara berdiri
lalu akhirnya menuliskan "cerita untuk esok"
Cerita kali ini ditulis untuk perempuan yang beranjak dewasa.
Suatu hari aku tak pernah tau kalau hal buruk itu terjadi olehku sendiri di masa lalu. Oleh tangan kecil rentan di masa lalu. Oleh hal-hal yang ku kira itu baik. Terbatasi oleh hak orang lain yang kupaksakan tak terjadi. Gadis remaja itu memaksa untuk dipenuhi citanya. Dirinya berbeda dengan temanya, yang memaksa dia melukis dengan warna yang lebih tajam dalam kanvasnya. Menjalani dengan penuh tawa dikiranya.
Tak apa ku kira, menertawai hal buruk di masa lalu, dan kembali berjalan lagi. Hari ini atau mungkin besok. Tapi nyatanya hidup hanya menunggu kekalahan kata penyair
legendaris Indonesia itu. Kekalahan pada diri sendiri untuk bangkit dari keterpurukan.
ah sudahlah, hari esok bukan tempat untuk sambat.
banyak hal yang harus kita syukuri
menjadikan langkah kecil Raga ini untuk kembali berjalan pun tak mudah, bertahun-tahun diam dalam ketakutan yang menyesakkan.
belum lagi ada banyak hal-hal yang terlampaui sempurna untuk kita pikirkan. dan pada akhirnya harapan juang...
semua sempurna untuk manusia...
Cerita untuk esok, bahwa banyak hal yang terlewati.
Cerita untuk esok bahwa sholatmu perlu diperbaiki
Cerita untuk esok, bahwa masih ada ibu bapak yang terus panjatkan doa untukmu
12 Desember 2020
di publish 22 Maret 2021, setelah sebulan tepat berkepala dua

Komentar
Posting Komentar