Tentang banyak hal yang tidak penting:v

    Banyak hal yang terlampaui menyakitkan yang terkadang malah justru membuat kita berhenti. Padahal jauh dari itu ada hal yang tak terhingga yang turut kita lupakan. Banyak diantara kita menyesali apa yang kita lakukan di masa lalu, tapi kesalahannya hanya pada rasa sesal itu. Seperti halnya tulisan ini dibuat adalah karena banyak hal yang terlewati begitu saja tanpa menyapa apa lagi singgah. Bukan hal besar untuk setiap orang. Tapi dari hal kecil yang belum dilakukan saja bisa menjadi sesak memenuhi hati menuju atas sampai otak dan pikiran.

    Selama Pandemi ini, waktu tak ubahnya telah berhenti sejenak untuk kalangan awan yang selalu merindukan bagaimana ia bisa sampai pada langit ketujuh. Berbeda dengan kalangan tanah, ini waktu yang menyesakkan, berhimpit dengan ratusan materi lain hanya untuk perjuangan tumbuhnya sebuah mahluk hidup yang sebut saja namanya hijau. Tanah meronta-ronta berebut diatas bumi yang agung ini. Tinggal menunggu waktu apakah semua tanah bisa berjuang kembali menyuburkan atau malah berpapasan lalu bertubrukan dengan beton penghalang guna terwujudnya pembangunan.

    Anak 19 Tahun 7 bulan ini masih diam, aneh rasanya membicarakan hal ini. Ketika masa depannya saja tak lebih baik dan tak pernah ada yang tau sampai mana batas dan sekat ini terpecah. Meletup seperti air yang sedang direbus, atau meletus seperti gunung, atau barang kali meledak seperti dalam peristiwa yang kita tahu sebagai kesempatanan besar dan momentum yang pas untuk sebuah negara ini merdeka.

    Tak pernah ada habisnya untuk menjadi baik tapi hal yang sulit daripada berbuat buruk. Seperti Hujan di musim kemarau panjang, yang aku tau itu pasti melegakan. Seperti mimpi-mimpi besar seorang anak manusia yang memberikan harapan dari segala hal buruk yang akan mereka hadapi. Sekerumunan manusia lain berbicara dengan apa yang mereka ingin bicarakan dan terus ada dalam kepentingan untuk menuntaskan ego yang mungkin saja terpendam dalam. Sebelum pada akhirnya kita terjun dan melihat dunia memang begini adanya. Nyata.

    Lalu sejak seabad ini ada satu bahan ajaib, plastik namanya. Dia bagaikan paradoks, yang kegunaannya selalu dibutuhkan tapi sekaligus membawa bencana. Memilih hidup tanpa plastik serasa tidak mungkin, karena setiap komponen dan alat untuk kita hidup sudah bertransformasi menggunakan plastik. Dimana plastik menjadi bencana untuk semua kalangan mahkluk hidup yang tinggal di bumi. Mulai mengerem, mungkin saja bisa memperlambat bencana ini sebelum pada akhirnya ada teknologi yang baru dan menjadi pemecah masalah. Seperti halnya masa pandemi yang menunggu vaksinnya ditemukan. 

    Sempurna menjadi rahasia. Banyak hal bisa diselesaikan oleh Teknologi, dan terkadang bertubrukan dengan nilai moral dan agama. Begitu seimbang bumi ini sebelum semua menampilkan sisi-sisi ego manusia yang tinggi. Alam semesta ini tercipta bukan hanya untuk manusia dan keberadaan Sang Pencipta dan Sang Pengatur yang tak ada tandingnya itu nyata. Sedangkan justru yang Fana adalah alam dunia ini sendiri.

    Duduk terdiam dan menahan kantuk kuliah online memang hal yang tak terdefinisikan dan tak tentu. Kita punya banyak pilihan untuk menjadi baik dan menjadi buruk, banyak hal yang belum kita ketahui hanya untuk tidak diketahui saja. Jauh dari kata mudah untuk tetap konsisten untuk banyak hal. Semua mencoba dan semua gagal. Semua merasakan dan semua berhasil. Dan untuk segala hal yang belum terjadi yaitu akan terjadi, sempurna rahasia.

    Tulisan kurang menarik dan aneh serta tidak penting ini dibuat benar-benar untuk mengusir rasa kantuk ketika kuliah online. Banyak hal yang ambigu, aneh dan wagu. Jadi jika kurang suka, ya memang tulisan ini bukan untuk anda. Terima kasih :)

    

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer