It’s okey to not be okey
versi ku:
Pagi itu, terbangun
seperti biasa. Waktu subuh yang berat dan tubuh yang belum siap. Menunggu pagi
agaknya lebih mengasyikan daripada melihat matahari tenggalam untuk beberapa
orang. Seperti halnya hari-hari kemarin. Seperti halnya sekerumunan manusia lain.
Terbangun untuk kembali menjalani
kehidupan. Ada yang enggan melupakan hari lalu, karena hari ini tak lebih
bahagia. Ada yang terus mengejar waktu, karena ada sesuatu yang katanya bisa
buat dia bahagia. Ada yang enggan melihat waktu, mangalir mengikuti begitu saja.
Adalagi yang hanya sekedar tahu bahwa semua ini tak harus berujung bahagia.
Perlahan-lahan makin dewasa, makin tau apa arti bahagia, tapi ternyata itu
malah bawa petaka. Semakin kita tahu apa itu bahagia semakin membuat tidak
bahagia. Bahwa bahagia bukan untuk kita raih di dunia. Bahwa kehidupan kekal
bukan di dunia. Dan dunia bukan tempat untuk mencari bahagia.
Tapi tubuh ini sadar
bahwa seringnya terhanyut dalam hiruk pikuk kehidupan. Terlanjur mengejar kaya,
kepopuleran, dan hal-hal yang malah menjadi sia-sia. Seperti halnya hari itu, bukan
menjadi versi terbaik dari diri seringnya membuat menyesal. Tidak memaksimalkan
usaha seringnya buat putus asa. Bukan menjadi apa adanya diri malah menjadi
kita semakin tak tau diri. Tidak berusaha untuk mencintai diri sendiri apa pun
keadaannya malah semakin kita jauh dari kata “manusia”. Tidak menjadi apa yang
di ingingkan orang tua, malah membuat menyesali kehidupan.
Dan hari-hari
berikutnya, sampai disuatu hari kembali diingatkan oleh yang Maha Baik. bahwa
hidup bukan untuk dunia, bahwa hidup bukan untuk disesali terus-terusan adanya.
Dan hidup bukan hanya mencetak kata “Bahagia”. Hembusan nafas ini, jari-jari
yang mengetikan kata-kata ini, mata yang masih melihat layar leptop ini, dan
segala kehidupan di dunia ini telah diatur, Allah yang mengatur dan Allah yang
menciptakan.
Maka dari itu makin
jadi sebuah tumpuan kalo aku hidup bukan perihal aku saja. Bukan pula mengejar
bahagia di dunia. Dan begitupun adanya bahagia serta segala hal baik, sedih dan
hal-hal buruk dalam hidup pun telah diciptakan-Nya. Jika hari ini aku sedih ada
Allah, yang 24/7 mendengar segala keluh kesah. Jika esok aku bahagia maka dari
Allah lah rasa bahagia itu ada.
Jika hari ini aku tidak
baik-baik saja. Pasti banyak orang yang mengalami hal yang sama, bukan untuk
mencari teman yang senasib sepenanggungan, tapi yakin bahwa Allah ada bersama
kita.
Jika hari ini aku
menyesal bahwa tidak menjadi versi terbaik dari diri ini, maka seharusnya rasa
sesal itu tak beralut-larut. Bahwa mungkin saja ada yang salah ketika ku mengaawalinya,
bisa saja dalam setiap langkah itu tak kulibatkan Allah sebagai segala yang
mengatur hidup. Jika hari ini aku tidak memaksimalkan usahaku, mungkin saja aku
lalai dalam menancapkan motivasi bahwa menolong agama Allah lebih utama di
dalamnya. Jika hari ini aku tak menajdi apa adanya diriku, sudah jelas bahwa
kedangkalan ilmu membuatku terjerumus. Jika hari ini aku tak mencintai diriku,
maka jelas bahwa aku kufur nikmat dari apa yang diberikan oleh-Nya. Jika hari
ini aku tak menjadi apa yang di ingikan orang tua, bukan menyalahkan yang jadi
jawaban.
Di dunia kita tetap
akan di uji baik itu ujian kebahagiaan yang membuat kita lalai, atau keburukan
yang terkadang juga buat putus asa.
Jika hari ini aku masih
enggan memperbaiki diri lalu siapa nanti yang akan ku salahkan atas kemalasan
yang berujung pada penyesalan. Dalam banyak kasus, kita menjadi pelaku
sekaligus korban dari kemalasan yang kita ciptakan. Dua peran yang saling tolak
menolak yang ternyata selalu berulang untuk kita perankan.
Beranjak dari tempat
tidur dipagi hari dengan tubuh yang belum siap dan memutuskan untuk menunggu
matahari terbit agaknya hanya akan terjadi jika kita tidak malas. Karena lebih
enak untuk tidur lagi. Wkwk
Seperti itulah yang sering terjadi memilih yang enak di awal dan ternyata malah buat kita menyesal di akhir..

Komentar
Posting Komentar