MONOLOG
Monolog: Legenda Sang Angkara
Khatulistiwa menanti dari sebuah perhitungan suara pemimpin negara dan wakil rakyat. Hiruk pikuk kota yang penuh konspirasi dan perang argument seakan belum mereda. Mereka yang mencari uang dari keringatnya sendiri seakan tak peduli dengan apa yang terjadi. Mengikuti arus dari sebuah pesta demokrasi sudah membuat mereka muak. Tak berkhayal jika perpecahan pun kini tak bisa dipungkiri lagi. Susah payah sang pendiri bangsa menyatukan perbedaan di negeri ini. Namun terlihat ironi karena sebuah emosi.
Di istana sedang hening, resah, gelisah, dan penuh harap. Siapa nanti yang akan menjadi pemimpin negara. Tak heran jika keringat dingin kembali membasahi seseorang yang sudah menantikan ini tiba. Bukan karena suara rakyat yang akan menjadi penentu sebuah keputusan ini namun sebuah janji pada yang tak pernah ada itu lah yang menjadikan semakin tegangnya hari ini.
Namun berbeda suasana dengan mereka yang hidup dalam batas ketidakmampuan yang tinggal dirumah gubuk itu, seberkas raut gelisah tak tampak. Beraktivitas seperti biasa. Hari hari hanyalah waktu yang terus berlalu. Tak lagi sanggup untuk bermimpi. Bukan sebuah keputusasaan, namun tak kan lagi sanggup raga itu bergelut dengan dunia. Hanya terus menatap senja dengan keriput dan raga yang menua. Menelusuri jejak langkahnya hanya membuat luka lama kembali menyayat. Siapa sangka dua puluh tahun yang lalu dia akan menerima ketidakadilan. Namun demi menghapus luka dia rela hidup sebatang kara. Tak ragunya dalam dada bahwa esok memang untuk mereka ynag berkuasa. Mereka-mereka yang sebenarya lebih hina dari rakyat jelata ini. Mereka-mereka yang jika bukan karena uang rakyat, hidup mereka jadi seperti neraka. Tak cukup memang sumpah serapah dari jutaan manusia di bumi ini untuk membersamai sebuah kejahatan yang mereka lakukan. Namun tak sanggup pula suara ini terdengar, yang ada sebelum suara ini terdengar nyawa sudah tak terbayang ada dimana.
Kehidupan memang agaknya terlihat tidak adil bagi manusia yang terperdaya dunia. Kecewa jika dikata mimpi-mimpi itu menghilang, bukan karena semangat yang padam. Namun manusia sepertiku hanyalah hidup dari mimpi. Tanpa mimpi tak ada lagi hari esok. Namun siapa sangka mimpiku bakal menajadi petaka. Membayangkannya saja tak bisa. Namun negeri ini sengsara oleh tawa sang penguasa. Negeri ini menyayat jantung kehidupan meski diam-diam matinya tak pernah ada yang tau. Negeri ini tak disangka merusak apa yang pernah pendahulu perjuangkan. Berkhianat pada ibu pertiwi. Ironi namun dalam diamku negeri ini mati tanpa ada yang menyadari.
Lagaknya seorang penyair berkata bahwa dengan puisi perasaan kita terwakilkan, atau seorang penyayi yang membawakan lagu indah itu untuk bersuara mewakili ribuan suara hati. Namun sama saja penderitaan tetap tak bisa diwakilkan. Oleh puisi, lagu, ataupun kebijakan yang berganti. Rasa-rasa lelah akan hidup yang kini kian tergusur oleh pembaharuan dan pembangunan tak akan bisa diwakilkan. Atau barangkali tak mampu sang wakil itu mengutarakan maksud hati seorang rakyat kecil ini.
Duuhhhh... andai saja kau tak membuat ku terbangun dari lamunan mungkin aku sudah terbang dalam angan bawah sadarku menuju dunia yang tak terbayang, dalam khayal dan sedikit mengiris nyata.
Pelan-pelan hati ini mulai sadar, bahwa aku tak sanggup mengalir, bahwa aku pun tak sanggup menerjang juang. Lalu siapa yang menghadang? Lalu siapa yang buat ku geram?
Entah esok, atau lusa, dan kita saling lupa.
Bersambung.....

Komentar
Posting Komentar