Memilih yang tak selalu membuat pulih
Selalu saja terbentur dengan sebuah pilihan. Hidup adalah sebuah pilihan. Baik dan buruk pun sudah digariskan. Hari-hari yang kita lewati pun semua bukan sepenuhnya kehendak kita dan salah juga jika kita harus pasrah dengan dalih "urip wes enek sing ngatur". Hidup memang sudah di atur tapi bukan berarti kita tak punya kendali atas pemberian hidup ini. Susah ternyata menjadi manusia. Kita bukan Sang malaikat yang suci tanpa dosa. Dan Si Setan yang penuh dengan hal-hal buruk. Kita juga bukan tumbuhan yang tak bisa berbicara ketika kita disakiti. Dan jelas kita bukan hewan yang nafsu berahinya melebihi. Bukan juga awan putih yang mengantung di langit. Bukan pula lautan yang diam-diam bergelombang menakutkan. Kita hanya lah manusia. Dan tugas kita adalah menjadi manusia. *Kayak nama social-platform sebelah* Tugas yang berat memang. Dan malaikatpun tak bisa mempercayai kita. Namun Allah lebih tau segalanya atas apa yang Dia ciptakan. So, we are human beings is not human doings.
Lalu, cerita dimulai. Aku rasa semua manusia pernah salah. Aku rasa semua manusia pernah trauma. Aku rasa semua manusia pernah salah memilih. Aku rasa semua manusia pernah mengalami penolakan. Aku rasa semua pernah sedih. Aku rasa semua manusia pernah kecewa. Aku rasa semua manusia pernah jatuh dan terluka. Dan aku rasa semua manusia pernah berdosa. Semua manusia wajar melakukannya. Semua manusia wajar tak luput dari dosa. Dan dunia kembali memberi pilihan untuk tetap berkubang atau meninggalkan dari semua perasaan, kejadian, dan luka itu. Manusia kembali terbentur. Ada yang terbentur dengan tembok besar ada yang terbentur dengan hal kecil tapi menusuk sampai menembus. Ada yang tau cara melewati tak sedikit yang menetap karena tak tau cara lewati. Ada yang menikmati tapi perlahan pergi. Ada yang bergelut dengan benturan namun malah menyakiti diri. Ada yang mencoba untuk melupakan tapi malah terpaut setiap kali bekas benturan kembali.
Memilih menjadi suatu ketakutan tersendiri untuk sebagian manusia. Memilih untuk sesegera mungkin dan tidak berlarut-larut dari kejadian, perasaan, serta sakit di masa lalu. Tapi kita hanyalah manusia, yang hidup tak hanya tentang tertawa bahagia. Kita harus mencoba untuk terus menerima bahwa rasa sedih dan banyak hal buruk juga tercipta. Seperti beriringnya malam dan siang. Seperti berpasang-pasangannya semua ciptaan Allah di dunia. Semua harus kita terima karena kita juga adalah ciptaan-Nya. Mahkluk yang paling sempurna. Yang dapat merasakan sakit jika terluka, dan dapat merasakan manisnya gula. Yang dapat berfikir apa adanya atau malah melebihi dari biasa.
Siapa sangka tahun ini menjadi tahun pertama, untuk diriku berkaktivitas dirumah 24/7 ? Siapa sangka di tahun ini ada wabah? *Mungkin ada sih, peneliti banyak yang menebak. Tapi yang jelas aku tidak pernah menyangka bahwa kuliah harus online. Sekolah dari rumah. Makin lepas dari kenyataan kalau waktu sibukku tidak terlihat mana hari weekend mana hari kerja. Di sisi lain, lihat diriku sekarang yang gabut 24/7 setelah kesibukan dan hectic kuliah terlewati. Benar-benar makin kerasa kosong. Meski beberapa kali mencoba untuk melakukan sesuatu. Teringat satu tahun lalu dimasa-masa kosongku. Aku masih bisa kerja. Sekarang? Mau kerja takut. Dan dengan dalih, banyak orang yang nganggur ga. Beri kesempatan mereka aja:v.. wkwkk *just kidding* Bingung dan malah stress dan perasaan perasaan serta kejadian-kejadian yang dengan paksa kulupakan malah berteriak memanggil untuk dituntaskan.
Masa masa umur belasan emamg cukup mengagetkan untuk diriku. Masa pertumbuhan. Masa masa remaja. Meski sekarang aku juga masih belasan. Iya sembilan belas. Wkwk. Tahun-tahun terberat dimana aku belum siap untuk benar benar tau apa itu kemungkinan terburuk. Tahun-tahun dimana bapak sakit, adik yang masih dalam masa bermain seharusnya, pertemanan yang menyebalkan, guru yang bikin jengkel, dan cerita cinta monyet ala kadarnya. Beranjak umur dapet KTP, makin ngerti harus bagimana menghadapi itu. Tapi bukan berarti semua berjalan lancar. Urusan akademik dan rasa menyalahkan diri malah timbul. Membuat lebih dahsyat benturan yang kualami. Dan untuk pertama kalinya aku pernah stress berat. Untuk pertama kalinya, hampir seharian dalam seminggu hanya bisa nangis meski tetap masuk sekolah. Ya emang sih aku cenggeng. Liat orang nangis aja aku langsung mewek. Liat orang yang gk kenal dan diposisi yang menyedihkan aja aku mewek. Tapi entahlah, saat itu beda.
Dan, meski menangis tidak menyebabkan kejadian menjadi baik, tapi setidaknya perasaanku lebih baik. Sama hal nya akhir-akhir ini. Sejak terpaksa tau bahwa kuliah offline masih tahun 2021. Raga dan pikiran mungkin bisa tetap menerima. Tapi huftt, masalah hati mang paling susah. Masalah perasaan. Dan paling susah masalah jiwa. Beginilah manusia, atau barangkali aku saja. Menerima kenyataan buruk bukan hal yang mudah. Meski kita tau kemungkinan terburuk. Meski kita punya siasat untuk melewati itu. Tapi, bagaimana dengan perasaan senang bisa sekedar tertawa lepas dengan teman? Tapi, bagaimana dengan peraaaan menikmati jalan untuk sekedar pergi ke perpus? Tapi, bagaimana dengan perasaanku yang selalu mendapat energi positif ketika bisa ngobrol banyak dengan orang? Bagaimana dengan jutaan anak yang sedang tumbuh menjadi manusia? Semua tidak bisa utuh dengan online.
Sempat berfikir bahwa, aku egois jika harus bisa punya perasaan senang seperti itu. Sedangkan bumi aman jika banyak manusia diam dirumah. Dan sempat berfikir bahwa, manusia lain lebih kejam jika mereka malah mengambil keuntungan dan kesempatan dalam kesempitan ini. Banyak hal yang dapat kupelajari dari setengah tahun ini.
Bahwa segalanya hanya perlu berjalan apa adanya.
Bahwa jika memang senang ungkapkan. Jika memang sedih lepaskan. Jika marah ceritakan jangan dilampiaskan. Semua perasaan tercipta untuk kita nikmati.
Dan memilih yang tak selalu membuat pulih adalah hal yang dengan apa adanya manusia terima.
Aku menulis ini bukan untuk membagi masa lalu.(alias buka aib sendiri) Atau mencari teman se-perasaan. Hanya jika perasaan perasaan serta kejadian-kejadian yang dengan paksa kulupakan malah berteriak memanggil untuk dituntaskan aku ingat bahwa semua ini hanya perlu diterima bukan untuk dilupakan dan dituntaskan.
Dan selalu jadi pengingat,
Bahwa Raga ini bukan manusia pintar yang nilainya harus bagus. Bahwa Raga ini bukan manusia baik, yang selalu berusaha menyenangkan orang lain. Bahwa Raga ini bukan manusia kuat, yang apapun benturan, Resistancenya dapat dihadapinya.
Melainkan, hanya manusia yang berusaha menjadi seperti namanya. Seperti doa yang diberikan oleh orang tuanya.
Dan untuk semua hal buruk yang pernah terjadi pada Raga, aku bukan tak memilih pulih. Hanya saja saat ini semua tak perlu terburu-buru. Karena mungkin akan ada stress berat lagi, entah tahun ini atau kedepannya. Dan pulih bukan perkara setahun dan belasan tahun. Tapi selamanya. Memilih untuk pulih? Harus dilakukan setiap saat dan selamanya. Jadi, aku butuh kata pulih untuk segala hal buruk yang terjadi.
Sekali lagi.
Untuk Raga yang lain dimanapun berada. Tetaplah seperti namamu. Jangan pernah menjadi orang lain.

Komentar
Posting Komentar