Perihal apa yang tak pernah kita rasakan



Bismillahirohmaniirohim....
Assalamu’alaikum...
Hallo freinds...
Ehe, aku muncul lagi untuk mengisi segala ketidakjelasan yang memang gk jelas atau mungkin ya gk juga.APASEH GA -_- Wkwk

OKE,
Seperti judul yang aku tulis nih, “Perihal apa yang tak pernah kita rasakan”
Hmmm, mungkin banyak memang yang belum pernah kita rasakan dan pasti setiap orang berbeda-beda. Tapi tenang, aku gak bakal nulis tentang itu.lha terus apa ga plis deh_-
 Ehe.. aku mo nulis tentanggggg....
Bentar man teman simak, baca, pahami puisi berikut ini dulu yaa..



WAHAI RAGA
(ANOMALI)
Wahai raga,
Benarkah jika mentari setiap hari menyinari bumi?
Namun mengapa aku tak bisa melihatnya
Kau bilang setiap manusia di bumi dapat melihat karna cahyanya
Namun mengapa gelap gulita lah yang menemaniku
Wahai raga,
Benarkah jika manusia saling berbicara?
Namun mengapa tak ku dapati suara
Hanya sepi, hening, dan hampa
Semua ini terlihat nestapa
Wahai raga,
Mengapa kau katakan kebohongan?
Mengapa kau katakan semua itu ada
Namun aku sendiri yang tak bisa
Wahai raga,
Mengapa kau bilang semua sama
Jika memang aku berbeda
Mengapa kau katakan aku bisa
Jika memang aku tak bisa
Wahai raga,
Masihkah mau kau berteman
Atau sekedar berlalu
Ketika kau tau aku tak seperti dirimu

(Surakarta, 5 Mei 2020)




Hehe... puisinya kacau banget ya, maklum aku nulis langsung sekali ngetik dan sekali duduk.
Nah ini man teman yang ku maksud “perihal yang takpernah kita rasakan”.
Alasan akku mau nulis ini karena ke trigger waktu bikin ppt matkul perkembangan peserta didik nah kelompok ku bahas tentang “Peserta Didik Berkebutuhan”.
Mungkin belum banyak yang bisa Raga ini tuliskan di sini. Karena memang baru belajar.

Jadi,

Di bumi ini, di dunia ini di semesta ini... banyak hal yang tak pernah kita rasakan. Seperti halnya mereka. Kaum difabel. Anak-anak berkebutuhan. Mereka sama seperti kita man teman. Karena memang setiap manusia diciptakan dengan keunikannya masing-masing. Namun, sikap tak peduli kita, sikap tak acuh kita kepada mereka yang selalu kita tak sadari. Padahal, mungkin mereka berada disekitar kita. Mereka mungkin ada di lingkungan kita. Dan mereka juga manusia yang pastinya memiliki hak yang sama seperti kita.
Barangkali kita bisa belajar dari mereka yang dianugerahi mata yang tak bisa melihat. Mungkin dari situlah mereka di jaga oleh Allah dari pandangan pandangan maksiat. Mungkin dari indera pendengar yang dengan izin Allah tak bisa mendengar selain kesunyian, mereka memang dijaga dari mendengar hal- hal yang dapat menambah dosa manusia. Dan mungkin dari keberbedaan mereka yang sering kita lihat sebagai keterbatasan mereka sedang di jaga Allah. Tak seperti kita yang kadang susahnya untuk menjaga pandangan yang buruk mendengar yang tak pantas di dengar.

Kadang seringnya kita tak acuh, bukan karena tak tau. Namun karena kita tak pernah merasakan menajadi. Seringnya kita merasa kurang ketika wajah kita tak secantik orang di luar sana. Seringnya kita merasa kurang ketika tinggi kita tak seperti orang di luar sana. Seringnya kita merasa kurang ketika mungkin hidup kita tak lebih baik dari orang di luar sana. Dan abainya kita akan rasa syukur yang pelan-pealan hilang dari hati, pikiran, dan kehidupan kita.


“Kita tak di hisab atas apa yang ditakdirkan di diri kita (fisik), maka fokuslah apa apa yang dihisab atas diri kita yaitu apa yang kita perbuat” (Dena Haura-2020)


Menulis hal ini mengingatkanku tentang salah satu lagu favoritku lagunya kak Rara Sekar dan Hindia judulnya “Membasuh”
...
telah ku sadar hidup bukanlah
perihal mengambil yang kau tebar
sedikit air yang kupunya
milikmu juga bersama

bisakah kita tetap memberi
walau tak suci?
bisakah kita terus mengobati
walau membiru

cukup besar tuk mengampuni 
tuk mengasihi
tanpa memperhitungkan masa lalu
walau kering 

bisakah kita membasuh
kita bergerak dan bersuara
berjalan jauh tumbuh bersama 
sempatkan pulang ke beranda
tuk mencatat hidup dan harganya

nah, balik lagi ke peserta didik berkebutuhan khusus ya
untuk menjawab berbagai problematika muncullah konsep "pendidikan inklusif"
anak anak yuenes pasti dah pada dengerkan istilah ini pa lagi angkatan 2019
lalu apa sih pengertian nyaa...


Stainback dan Stainback (1990) dalam Sunardi (2002) menyebutkan bahwa sekolah inklusi merupakan sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama dengan layanan pendidikan yang disesuaikan kemampuan dan kebutuhan siswa. Dengan demikian, maka sekolah juga harus merupakan tempat setiap anak diterima menjadi bagian dari kelas serta saling membantu dengan guru dan teman sebayanya agar kebutuhan individualnya terpenuhi. 

loh kenapa malah mereka dijadiin satu bukannya malah membuat diskriminatif akan  marak? atau barangkali malah menyusahkan mereka untuk mengikuti pembelajaran?


Eiitttsss... tunggu dulu

Padahal, konsep normal tersebut juga sama tidak jelasnya dengan konsep luar biasa atau berkelainan. Yang tampak dalam kehidupan sehari-hari adalah bahwa tiap individu berbeda dan pernyataan normal atau abnormal hanya mengacu pada salah satu atau beberapa aspek saja dari manusia sebagai satu keseluruhan. Dalam konsep pendidikan luar biasa, pendidikan inklusif diartikan sebagai penggabungan penyelenggaraan pendidikan luar biasa dan pendidikan biasa  dalam satu sistem yang dipersatukan. Adapun yang dimaksud pendidikan luar biasa adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi siswa luar biasa atau berkelainan baik dalam makna dikaruniai keunggulan (gifted/talented) maupun karena adanya hambatan fisik, sensosik, motorik, intelektual, emosi, dan atau sosial.
Dalam sistem pendidikan yang segregatif eksklusif, peserta didik dikelompokkan ke dalam dua kategori, normal dan berkelainan. Sebagai konsekuensi dari pandangan yang dikotomis semacam itu maka peserta didik yang normal dimasukkan ke sekolah reguler sedangkan yang berkelainan dimasukkan ke sekolah khusus atau sekolah luar biasa. Dalam seting pendidikan inklusif pengkategorian peserta didik ke dalam kelompok normal dan berkelainan ditiadakan. Pengkategorian dipandang sebagai biang keladi penyebab pelabelan, dan pelabelan sebagi biang keladi penyebab rasa malu dan rendah diri bagi peserta didik yang berkekurangan dan arogansi bagi yang memiliki keunggulan. Padahal dalam kenyataan kehidupan orang berkekurangan dapat pula dikaruniai keunggulan dan sebaliknya, orang yang memperoleh predikat unggul tidak luput dari kekurangan.  Pendidikan inklusif memandang kebhinnekaan sebagai anugerah, yang memungkinkan manusia dapat saling berhubungan dalam rangka saling membutuhkan. Proses belajar tidak hanya terjadi antara guru dengan siswa tetapi juga dengan sesama siswa dan sumber belajar lainnya. Oleh karena itu, kelompok belajar harus heterogen, agar peserta didik satu satu sama lain dapat saling belajar.




Nah perihal mereka yang takutnya malah gk bisa ngikutin itu ada beberapa kriteria memang. Gk semua mereka yang berkebutuhan khusus bisa sekolah di sekolah umum. Aku belum bisa jelasin banyak tentang hal ini takutnya dari kesotoyan aku malah jadi ngawur dan gk jelas. Barangkali kalian para pembaca setia... (kayak ada yang baca je_-) bolehlah cari sebanyak banyaknya bacaan tentang hal ini dan share ke aku..



Nah, jadi gitu gaes.. ini yang mau ku share dari kesotoyan dan penggabungan beberapa bacaan. Ini Cuma tulisan raga yang masih banyak kopasnya. Ehe. Kelihatankan mana yang kopas. Wkwk

Semoga bermanfaat.
Dannnnn.... boleh lah ninggalin komen kalo memang benar benar dikira tulisan ini bermanfaat untuk pembaca.
anomali


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer